Harga Kebutuhan Pokok Pekan ini di Seputaran Pasar Bireuen : Beras Rp.........Minyak Goreng Rp.......Gula Pasir Rp.........Cabe Merah Rp.........Bawang Merah Rp........Bawang Putih Rp...........

Selasa, 10 April 2012

Kita Kok Selalu Makan Racun?

Dalam makanan yang kita makan sehari – hari tanpa kita sadar telah tekandung racun, salah satu contoh pada padi, beras yang kita makan ternyata banyak mengadung residu pestisida yang di aplikasikan oleh petani pada saat budidya padi.kemudian di perparah lagi penggunaan pestisda pada gudang penyimpanan padi dan beras.
Sejak kapan kita sudah menggunakan persida berikut ulasanya :

Sejarah Pestisida

Penggunaan pestisida kimia pertama kali diketahui sekitar 4.500 tahun yang lalu (2.500 SM) yaitu pemanfaatan asap sulfur untuk mengendalikan tungau di Sumeria. Sedangkan penggunaan bahan kimia beracun seperti arsenic, mercury dan serbuk timah diketahui mulai digunakan untuk memberantas serangga pada abad ke- 15. Kemudian pada abad ke-17 nikotin sulfate yang diekstrak dari tembakau mulai digunakan sebagai insektisida. Pada abad ke-19 diintroduksi dua jenis pestisida alami yaitu, pyretrum yang diekstrak dari chrysanthemum dan rotenon yang diekstrak dari
akar tuba Derris eliptica (Sastroutomo, 1992). Pada tahun 1874 Othmar Zeidler adalah orang yang pertama kali mensintesis DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane), tetapi fungsinya sebagai insektisida baru ditemukan oleh ahli kimia Swiss, Paul Hermann Muller pada tahun 1939 yang dengan penemuannya ini dia dianugrahi hadiah nobel dalam bidang Physiology atau Medicine pada tahun 1948 (NobelPrize.org). Pada tahun 1940an mulai dilakukan produksi pestisida sintetik dalam jumlah besar dan diaplikasikan secara luas (Weir, 1998). Beberapa literatur menyebutkan bahwa tahun 1940an dan 1950an sebagai aloera pestisida (Murphy, 2005). Penggunaan pestisida terus meningkat lebih dari 50 kali lipat semenjak tahun 1950, dan sekarang sekitar 2,5 juta ton pestisida ini digunakan setiap tahunnya. Dari seluruh pestisida yang diproduksi di seluruh dunia saat ini, 75% digunakan di negara-negara berkembang (Sudarmo, 1987). Di Indonesia, pestisida yang paling banyak digunakan sejak tahun 1950an sampai akhir tahun 1960-an adalah pestisida dari golongan hidrokarbon berklor Universitas Sumatera Utara seperti DDT, endrin, aldrin, dieldrin, heptaklor dan gamma BHC. Penggunaan pestisida-pestisida fosfat organik seperti paration, OMPA, TEPP pada masa lampau tidak perlu dikhawatirkan, karena walaupun bahan-bahan ini sangat beracun (racun
akut), akan tetapi pestisida-pestisida tersebut sangat mudah terurai dan tidak mempunyai efek residu yang menahun. Hal penting yang masih perlu diperhatikan masa kini ialah dampak penggunaan hidrokarbon berklor pada masa lampau khususnya terhadap aplikasi derivat-derivat DDT, endrin dan dieldrin.

Pestisida secara umum diartikan sebagai bahan kimia beracun yang digunakan untuk mengendalikan jasad penganggu yang merugikan kepentingan manusia. Dalam sejarah peradaban manusia, pestisida telah cukup lama digunakan terutama dalam bidang kesehatan dan bidang pertanian. Di bidang kesehatan, pestisida merupakan sarana yang penting. Terutama digunakan dalam melindungi manusia dari gangguan secara langsung oleh jasad tertentu maupun tidak langsung oleh berbagai vektor penyakit menular. Berbagai serangga vektor yang menularkan penyakit berbahaya bagi manusia, telah berhasil dikendalikan dengan bantuan pestisida. Dan berkat pestisida, manusia telah dapat dibebaskan dari ancaman berbagai penyakit berbahaya seperti penyakit malaria, demam berdarah, penyakit kaki gajah, tiphus dan lain-lain.
Di bidang pertanian, penggunaan pestisida juga telah dirasakan manfaatnya untuk meningkatkan produksi. Dewasa ini pestisida merupakan sarana yang sangat diperlukan. Terutama digunakan untuk melindungi tanaman dan hasil tanaman, ternak maupun ikan dari kerugian yang ditimbulkan oleh berbagai jasad pengganggu. Bahkan oleh sebahagian besar petani, beranggapan bahwa pestisida adalah sebagai “dewa penyelamat” yang sangat vital. Sebab dengan bantuan pestisida, petani meyakini dapat terhindar dari kerugian akibat serangan jasad pengganggu tanaman yang terdiri dari kelompok hama, penyakit maupun gulma. Keyakinan tersebut, cenderung memicu pengunaan pestisida dari waktu ke waktu meningkat dengan pesat.



Di Indonesia, disamping perusahaan perkebunan, petani yang paling banyak menggunakan berbagai jenis pestisida ialah petani sayuran, petani tanaman pangan dan petani tanaman hortikultura buah-buahan. Khusus petani sayuran, kelihatannya sulit melepaskan diri dari ketergantungan penggunaan pestisida. Bertanam sayuran tanpa pestisida dianggap tidak aman, dan sering kali pestisida dijadikan sebagai garansi keberhasilan berproduksi.

Kebijakan Masalalu Mendorong Petani Menggunakan Pestisida
Peningkatan pembangunan pertanian di Indonesia, menyebabkan kebutuhan akan pestisida bertambah banyak, baik jumlah maupun jenisnya.. Mencermati kilas balik pembangunan pertanian di Indonesia, peningkatan penggunaan pestisida tidak terlepas dari peran pemerintah. Sejak tahun permulaan pelaksanaan program intensifikasi pangan, masalah hama diusahakan ditanggulangi dengan berbagai jenis formulasi pestisida. Orientasi pemerintah pada waktu itu tertumpu pada peningkatan hasil sebanyak-banyaknya, tanpa memperhatikan dampak negatif terhadap lingkungan. Pada saat dicanangkannya program intensifikasi pangan melalui program nasional BIMAS, pestisida telah dimasukkan sebagai paket teknologi yang wajib digunakan petani peserta. Bagi petani yang tidak menggunakan pestisida, oleh pemerintah dianggap tidak layak sebagai penerima bantuan BIMAS. Akibatnya, mau tidak mau petani dirangsang menggunakan pestisida. Bahkan pada waktu itu, pemerintah bermurah hati memberi subsidi pengadaan pestisida hingga mencapai 80 persen, sehingga harga pestisida di pasaran menjadi sangat murah. Tidak itu saja, termasuk jenis pestisida yang digunakan, hingga keputusan penggunaannya (jadwal aplikasi) diatur oleh pemerintah.
Jenis pestisida yang dianjurkan digunakan pada waktu itu umumnya adalah pestisida yang berdaya bunuh berspektrum luas, yaitu mampu membunuh sebahagian besar organisma yang dikenainya, termasuk organisma berguna seperti musuh alami hama dan organisma bukan target lainnya yang hidup berdampingan dengan organisma pengganggu tanaman. Program penyuluhan pertanianpun merekomendasikan aplikasi pestisida secara terjadwal dengan sistem kalender, tanpa memperhatikan ada atau tidak ada hama yang menyerang tanaman di lapangan. Sehingga frekuensi penyemprotan menjadi lebih intensif, dan biasa dilakukan setiap minggu sepanjang musim tanam.
Kebijakan perlakuan seperti disebut dimuka, tidak selamanya menguntungkan. Hasil evaluasi memperlihatkan, timbul kerugian yang tidak disadari yang sebelumnya tidak diperkirakan. Beberapa kerugian yang muncul akibat pengendalian organisma pengganggu tanaman yang semata-mata mengandalkan pestisida, antara lain menimbulkan kekebalan (resistensi) hama, mendorong terjadinya resurgensi, terbunuhnya musuh alami dan jasad non target, serta dapat menyebabkan terjadinya ledakan populasi hama sekunder.



Dampak Negatif Pestisida Pertanian
Memang kita akui, pestisida banyak memberi manfaat dan keuntungan. Diantaranya, cepat menurunkan populasi jasad penganggu tanaman dengan periode pengendalian yang lebih panjang, mudah dan praktis cara penggunaannya, mudah diproduksi secara besar-besaran serta mudah diangkut dan disimpan. Manfaat yang lain, secara ekonomi penggunaan pestisida relatif menguntungkan. Namun, bukan berarti penggunaan pestisida tidak menimbulkan dampak buruk.
Akhir-akhir ini disadari bahwa pemakaian pestisida, khususnya pestisida sintetis ibarat pisau bermata dua. Dibalik manfaatnya yang besar bagi peningkatan produksi pertanian, terselubung bahaya yang mengerikan. Tak bisa dipungkiri, bahaya pestisida semakin nyata dirasakan masyarakat, terlebih akibat penggunaan pestisida yang tidak bijaksana. Kerugian berupa timbulnya dampak buruk penggunaan pestisida, dapat dikelompokkan atas 3 bagian : (1). Pestisida berpengaruh negatip terhadap kesehatan manusia, (2). Pestisida berpengaruh buruk terhadap kualitas lingkungan, dan (3). Pestisida meningkatkan perkembangan populasi jasad penganggu tanaman.

Pengaruh Negatif Pestisida Terhadap Kesehatan Manusia
Pestisida secara harfiah berarti pembunuh hama, berasal dari kata pest dan sida. Pest meliputi hama penyakit secara luas, sedangkan sida berasal dari kata “caedo” yang berarti membunuh. Pada umumnya pestisida, terutama pestisida sintesis adalah biosida yang tidak saja bersifat racun terhadap jasad pengganggu sasaran. Tetapi juga dapat bersifat racun terhadap manusia dan jasad bukan target termasuk tanaman, ternak dan organisma berguna lainnya.
Apabila penggunaan pestisida tanpa diimbangi dengan perlindungan dan perawatan kesehatan, orang yang sering berhubungan dengan pestisida, secara lambat laun akan mempengaruhi kesehatannya. Pestisida meracuni manusia tidak hanya pada saat pestisida itu digunakan, tetapi juga saat mempersiapkan, atau sesudah melakukan penyemprotan.
Kecelakaan akibat pestisida pada manusia sering terjadi, terutama dialami oleh orang yang langsung melaksanakan penyemprotan. Mereka dapat mengalami pusing-pusing ketika sedang menyemprot maupun sesudahnya, atau muntah-muntah, mulas, mata berair, kulit terasa gatal-gatal dan menjadi luka, kejang-kejang, pingsan, dan tidak sedikit kasus berakhir dengan kematian. Kejadian tersebut umumnya disebabkan kurangnya perhatian atas keselamatan kerja dan kurangnya kesadaran bahwa pestisida adalah racun.
Kadang-kadang para petani atau pekerja perkebunan, kurang menyadari daya racun pestisida, sehingga dalam melakukan penyimpanan dan penggunaannya tidak memperhatikan segi-segi keselamatan. Pestisida sering ditempatkan sembarangan, dan saat menyemprot sering tidak menggunakan pelindung, misalnya tanpa kaos tangan dari plastik, tanpa baju lengan panjang, dan tidak mengenakan masker penutup mulut dan hidung. Juga cara penyemprotannya sering tidak memperhatikan arah angin, sehingga cairan semprot mengenai tubuhnya. Bahkan kadang-kadang wadah tempat pestisida digunakan sebagai tempat minum, atau dibuang di sembarang tempat. Kecerobohan yang lain, penggunaan dosis aplikasi sering tidak sesuai anjuran. Dosis dan konsentrasi yang dipakai kadang-kadang ditingkatkan hingga melampaui batas yang disarankan, dengan alasan dosis yang rendah tidak mampu lagi mengendalikan hama dan penyakit tanaman.
Secara tidak sengaja, pestisida dapat meracuni manusia atau hewan ternak melalui mulut, kulit, dan pernafasan. Sering tanpa disadari bahan kimia beracun tersebut masuk ke dalam tubuh seseorang tanpa menimbulkan rasa sakit yang mendadak dan mengakibatkan keracunan kronis. Seseorang yang menderita keracunan kronis, ketahuan setelah selang waktu yang lama, setelah berbulan atau bertahun. Keracunan kronis akibat pestisida saat ini paling ditakuti, karena efek racun dapat bersifat karsiogenic (pembentukan jaringan kanker pada tubuh), mutagenic (kerusakan genetik untuk generasi yang akan datang), dan teratogenic (kelahiran anak cacad dari ibu yang keracunan).
Pestisida dalam bentuk gas merupakan pestisida yang paling berbahaya bagi pernafasan, sedangkan yang berbentuk cairan sangat berbahaya bagi kulit, karena dapat masuk ke dalam jaringan tubuh melalui ruang pori kulit. Menurut World Health Organization (WHO), paling tidak 20.000 orang per tahun, mati akibat keracunan pestisida. Diperkirakan 5.000 – 10.000 orang per tahun mengalami dampak yang sangat fatal, seperti mengalami penyakit kanker, cacat tubuh, kemandulan dan penyakit liver. Tragedi Bhopal di India pada bulan Desember 1984 merupakan peringatan keras untuk produksi pestisida sintesis. Saat itu, bahan kimia metil isosianat telah bocor dari pabrik Union Carbide yang memproduksi pestisida sintesis (Sevin). Tragedi itu menewaskan lebih dari 2.000 orang dan mengakibatkan lebih dari 50.000 orang dirawat akibat keracunan. Kejadian ini merupakan musibah terburuk dalam sejarah produksi pestisida sintesis.
Selain keracunan langsung, dampak negatif pestisida bisa mempengaruhi kesehatan orang awam yang bukan petani, atau orang yang sama sekali tidak berhubungan dengan pestisida. Kemungkinan ini bisa terjadi akibat sisa racun (residu) pestisida yang ada didalam tanaman atau bagian tanaman yang dikonsumsi manusia sebagai bahan makanan. Konsumen yang mengkonsumsi produk tersebut, tanpa sadar telah kemasukan racun pestisida melalui hidangan makanan yang dikonsumsi setiap hari. Apabila jenis pestisida mempunyai residu terlalu tinggi pada tanaman, maka akan membahayakan manusia atau ternak yang mengkonsumsi tanaman tersebut. Makin tinggi residu, makin berbahaya bagi konsumen.
Dewasa ini, residu pestisida di dalam makanan dan lingkungan semakin menakutkan manusia. Masalah residu ini, terutama terdapat pada tanaman sayur-sayuran seperti kubis, tomat, petsai, bawang, cabai, anggur dan lain-lainnya. Sebab jenis-jenis tersebut umumnya disemprot secara rutin dengan frekuensi penyemprotan yang tinggi, bisa sepuluh sampai lima belas kali dalam semusim. Bahkan beberapa hari menjelang panenpun, masih dilakukan aplikasi pestisida. Publikasi ilmiah pernah melaporkan dalam jaringan tubuh bayi yang dilahirkan seorang Ibu yang secara rutin mengkonsumsi sayuran yang disemprot pestisida, terdapat kelainan genetik yang berpotensi menyebabkan bayi tersebut cacat tubuh sekaligus cacat mental.
Belakangan ini, masalah residu pestisida pada produk pertanian dijadikan pertimbangan untuk diterima atau ditolak negara importir. Negara maju umumnya tidak mentolerir adanya residu pestisida pada bahan makanan yang masuk ke negaranya. Belakangan ini produk pertanian Indonesia sering ditolak di luar negeri karena residu pestisida yang berlebihan. Media massa pernah memberitakan, ekspor cabai Indonesia ke Singapura tidak dapat diterima dan akhirnya dimusnahkan karena residu pestisida yang melebihi ambang batas. Demikian juga pruduksi sayur mayur dari Sumatera Utara, pada tahun 80-an masih diterima pasar luar negeri. Tetapi kurun waktu belakangan ini, seiring dengan perkembangan kesadaran peningkatan kesehatan, sayur mayur dari Sumatera Utara ditolak konsumen luar negeri, dengan alasan kandungan residu pestisida yang tidak dapat ditoleransi karena melampaui ambang batas..
Pada tahun 1996, pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian sebenarnya telah membuat keputusan tentang penetapan ambang batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian. Namun pada kenyatannya, belum banyak pengusaha pertanian atau petani yang perduli. Dan baru menyadari setelah ekspor produk pertanian kita ditolak oleh negara importir, akibat residu pestisida yang tinggi. Diramalkan, jika masih mengandalkan pestisida sintesis sebagai alat pengendali hama, pemberlakuan ekolabelling dan ISO 14000 dalam era perdagangan bebas, membuat produk pertanian Indonesia tidak mampu bersaing dan tersisih serta terpuruk di pasar global.





[ Read More.. ]

Apakah Kamu Tahu?

Tugas Pokok THL TBPP Itu Apa?
TTugas Pokok THL TBPP Itu Apa?ugas Pokok Tenaga Harian Lepas (THL) Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian adalah membantu Penyuluh Pertanian Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan Programa Penyuluhan Kecamatan dan Programa Penyuluhan Pertanian Desa.
Funsi THL TBPP Itu Apa?
FUNGSI
Fungsi Tenaga Harian Lepas (THL) Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian adalah:
  1. Menyebarluaskan informasi pembangunan pertanian diwilayah kerjanya dengan cara menyampaikan visi, misi, tujuan, strategi, dan prinsip dari pembangunan pertanian
  2. Memfasilitasi penumbuhan dan pengembangan kelembagaan petani (Kelompok tani, Gabungan Kelompok Tani, asosiasi dan korporasi)
  3. Mendorong peran serta petani/ kelompok tani, Gabungan Kelompok Tani, dalam pembangunan pertanian di wilayahnya
  4. Menumbuhkembangkan jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, dan kemampuan managerial petani
  5. Memfasilitasi petani/ kelompok tani/ Gabungan Kelompok Tani dalam penyusunan RDK/ RDKK/ di wilayah kerjanya
  6. Memfasilitasi petani/ Kelompok tani/ Gabungan Kelompok Tani untuk menyusun rencana usaha bersama
  7. Membimbing dan memberikan alternatif pemecahan masalah petani/ Kelompok tani/ Gabungan Kelompok Tani dalam mengambil keputusan untuk mengembangkan usahanya
[ Read More.. ]

Senin, 09 April 2012

Kubang Itam dulu dan Kini


Kubang Itam sebuah dusun terpencil di desa Balee Panah Kecamatan Juli kabupaten Bireuen, kehidupan masyarakat kubang itam 99 % hidup dari sector pertanian dan peternakan, kehidupan masyarakat yang bersahabat membuat terpikat setiap tamu yang datang ke dusun tersebut. Kalau kita lihat dari topografi letak dusun tersebut di pisah oleh Sungai Peusangan yang mengalir dari hulu danau laut tawar hingga bermuara ke selat malaka. Panorama alam yang sejut membuat makin betah setiap tamu yang datang untuk berlama – lama di dusun kubang itam. Untuk menempuh ke dusun kubang itam kita harus menyeberang sungai, beruntung sekarang sudah ada jembatan gantung yang bisa di lalui mobil 4 roda, dulu masyarakat kubang itam kalau hendak ke kota kecamatan maupun kota kabupaten harus menyeberang sungai menggunakan rakit atau perahu sampan. Dusun kubang itam merupakan salah satu central kakao di kecamatan Juli. Pada era tahun 1980 an s/d 1990 petani kakao kubang itam sempat menikmati hasil kakao yang lumayan menggebirakan karena produksi kakao pada masa itu lumayan tinggi di tambah lagi dengan harga jual yang tinggi. Seiring waktu berlalu dan konflik yang melanda aceh pasca bentrok antara RI dan GAM banyak kebun kakao di kubang itam di telantarkan oleh petani sehingga yang dulu kebun kakao yang terawat dengan rapi berubah menjadi hutan kakao dan semak belukar. Harapan petani kakao pada saat itu sudah punyar sehingga mereka kurang bergairah mengusahakan budidaya kakao tersebut.

Kini hutan – hutan kakao telah berubah kembali menjadi kebun kakao yang terawat dan berproduksi tinggi hasil persilangan klon unggul. PEKA (Peningkatan Ekonomi Kakao Aceh) salah satu program yang di biaya oleh Bank Dunia melalui proyek EDFF (Economic Development and Financing Facility) yang di laksanakan oleh NGO Swisscontact telah membawa perubahan pada peningkatan produksi kakao di dusun kubang itam. Kini Kubang Itam sering di kunjungi oleh peserta SL PTT Kakao untuk melakukan studi banding ke Kelompok Tani Kubang Itam, keberhasilan kelompok tani kubang itam telah menjadi contoh pada kelompok – kelompok tani lain. Kini dusun Kubang Telah Menjadi salah satu Central Kakao terkenal di Kabupaten Bireuen,

[ Read More.. ]

Minggu, 08 April 2012

Petani Kopi Gayo Galau


Menjelang panen raya petani kopi negeri di atas awan (Dataran Tinggi Gayo) mengalami frustasi pasalnya harga kopi di tingkat pengumpul di Takeungon , Pondok Baru, Sp.Teuriti, Lampahan dan beberapa daerah sentral kopi lainya mengalami penurunan yang cukup drastis, apakah dalam hal ini Pemerintah Aceh Tengah dan Bener Meriah sudah mengambil inisiatif untuk mengatasi masalah tersebut. Berikut cuplikan berita yang berhasil kontributor FK THL TBPP Kupulkan.

Harga kopi Gayo di sentra kopi terbesar Sumatera, Takengon dan Redelong mengalami penurunan drastis. Padahal, sebelumnya harga kopi berada pada angka yang sangat menggembirakan petani.
Anjloknya harga kopi arabika Gayo sejak sepekan terakhir membuat sejumlah petani mengeluh karena kopi berada di pertengahan panen atau menjelang panen raya. "Kualitas kopi saat ini sangat baik, namun sayang harganya turun," kata Zulkarnain, petani di kopi di Bener Meriah, Selasa (20/3).
Dikatakan, saat ini kopi gelondong merah (cherry) dibeli pedagang Rp80 ribu/kaleng. "Itu pun tergantung kualitas kopi. Kualitas baik dibeli pedagang di atas Rp80 ribu. Padahal sebelumnya harga kopi Rp100 ribu lebih," keluh Zulkarnain.

Kahar, seorang pedagang kopi di Takengon membenarkan turunnya harga kopi. Saat ini harga kopi paling mahal Rp80 ribu/kaleng buah merah atau gelondongan. Diterangkan Kahar, kopi asalan, dengan ketentuan kadar air 18 persen serta terase (sampah) 12 persen di pasar kopi Medan  Rp47 ribu.
Sementara kopi Arabika Gayo siap ekspor dibeli Rp54 ribu dengan ketentuan kadar air 14 persen dan terase 8 persen.  Sebelumnya, tambah Kahar, harga kopi biji hijau atau green bean di atas Rp60 ribu.

Kopi Olahan

Pantauan Analisa, saat ini sejumlah pelaku usaha kopi pada level industri kecil menengah (IKM) sudah mulai memasuki pasaran khusus kopi olahan dan tidak lagi menjual kopi mentah (biji). Sejumlah warung kopi (cafe) tumbuh subur di seputaran Takengon dan Bener Meriah.
Di Takengon, sejumlah perusahaan asing dan lokal yang menggandeng petani dan koperasi mengirim langsung kopi Gayo ke mancanegara. Kopi arabika Gayo diminati pasar dunia karena rasa dan aroma serta jaminan berbagai sertifikat untuk kopi.

Sertifikat tersebut seperti fair trade, organic  coffee, rain forest dan dua sertifikat lainnya. "Sertifikat-sertifikat ini menambah nilai harga kopi arabika di pasar dunia," kata Djumhur dari koperasi Permata Gayo. (www.analisadaily.com)

Harga kopi gayo di Takengon dan Bener Meriah yang merupakan sentra penghasil kopi arabika terbesar di Asia , anjlok sejak sepekan terakhir. Harga kopi beras (green bean) saat ini di tingkat local Aceh Tengah dan Bener Meriah hanya dibeli Rp. 47 ribu.
“Padahal sebelumnya sudah diatas Rp.60 ribu”, kata Kahar, seorang pedagang kopi di Takengon. Kahar saat ini membeli kopi dari petani kopi Rp.80 ribu/kaleng (setara dengan 10 kilogram lebih). Menurut beberapa petani, salah seorangnya Zulkarnain, petani di Bener Meriah menyebutkan bahwa saat ini kopi gayo sedang berada pada kondisi stabil menjelang panen raya.
“Jika sebelumnya pedagang kopi beralasan kualitas kopi tidak bagus, sekarang kondisi kopi sangat baik, tapi kok harga turun”, kata Zulkarnain kecewa. Zulkarnain menduga turunnnya harga kopi gayo akibat permainan pedagang dan mafia kopi.
Menurut Zulkarnain, saat ini kopi gelondong merah (cherry) dibeli pedagang dengan harga Rp.80 ribu/kaleng. “Tergantung kualitas kopi. Kopi yang baik dibeli pedagang diatas Rp.80 ribu. Tapi tak sampai Rp.90 ribu. Padahal sebelumnya sudah diatas Rp.100 ribu”, keluh Zulkarnain.Bahkan menembus angka Rp.110 ribu/kaleng.
Sementara itu, kopi arabika gayo ready atau siap eksport dibeli Rp. 54 ribu dengan ketentuan, kadar air 14 persen dan terase 8 persen. Data Pemkab Aceh Tengah seperti disampaikan bupati Aceh Tengah, Nasaruddin pada konferensi Kakao dan Kopi di hotel Hermes Palace (14-15/3) mengungkapkan,
Di tiga kabupaten penghasil kopi arabika rakyat, Takengon, Redlong dan Gayo Lues mencapai 92.520 hektar. Lahan seluas ini diusahakan oleh 66.101 kepala keluarga.
Di Aceh Tengah, lahan kopi menempati areal seluas 48.000 hektar . Dengan produktivitas 0.725 ton/ha/tahun. Kopi gayo sudah dilindungi secara geografis (IG) dengan nomor ID G 000000005, Tanggal 28 April 2010.
Sebelumnya, di tingkat petani, kopi biji hijau (KBH), arabika gayo dijual Rp.66.500 atau sekitar 7.4 dolar Amerika/kilogramnya. “Harga kopi gayo lebih tinggi dua dolar dibandingkan harga terminal kopi di New York”, ulas Djumhur, dari koperasi Permata Gayo, eksportir.
Dari data Surat Persetujuan Eksport Kopi (SPEK) yang dikeluarkan Dinas Perdagangan Aceh Tengah, bulan Januari 2012 meperlihatkan eksport kopi arabika gayo sebanyak 456 ton dengan pasar terbesar ke Amerika, Kanada dan Mexico.
Dua varietas kopi arabika gayo, yakni Gayo 1 dan Gayo 2 sudah dilepas Menteri Pertanian sebagai varietas unggul berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor 3998/Kpts/SR.120/12/2010, Tanggal 29 Desember 2010.
Gayo 1 merupakan varietas Arabusta Timtim, sementara gayo 2 adalah verietas Borbor. Kelebihan kedua varietas ini adalah tahan terhadap karat daun, nematode dan penggerek buah kopi. Selain itu kedua varietas ini memiliki citarasa dan aroma excellent, dengan potensi hasil diatas 1 ton/ha/tahun.
Saat ini sejumlah pelaku usaha kopi pada level Industri Kecil Menengah (IKM) sudah mulai memasuki pasaran khusus kopi olahan dan tidak lagi menjual kopi mentah (biji). Sejumlah warung kopi (Café) tumbuh di seputaran Takengon dan Bener Meriah.
Café modern ini menyajikan kopi olahan dengan mesin espresso manual dan otomatis. Selain itu, kopi bubuk , gonseng (roasted bean) serta kopi uwak gayo sudah mulai dipasarkan dari industry rumah tangga.
“Meski masih berskala kecil, namun permintaan kopi gayo dengan berbagai olahan ini sudah mulai pangsa pasar disejumlah kota besar Indonesia. Seperti Bali, Yogja, Jakarta, Medan , Batam, Bandung serta kota lainnya”, ujar Sarhan, pelaku usaha kopi olahan.
Di Takengon, sejumlah perusahaan asing dan local yang menggandeng petani dan koperasi mengirim langsung kopi gayo ke antero dunia. Kopi arabika gayo diminati pasar dunia karena rasa dan aroma serta jaminan berbagai sertifikat untuk kopi.
Sertifikat tersebut seperti Fair Trade, organic coffee, rain forest dan dua sertifikat lainnya. “Sertifikat –sertifikat ini menambah nilai harga kopi arabika di pasar dunia”, ungkap Djumhur dari koperasi Permata Gayo.
“Turunnya harga kopi gayo saat ini karena turunnya permintaan buyer”, imbuh Djumhur. Turunnya harga kopi arabika gayo diamini Mustawalad, Ketua Produser Fair Trade Indonesia (APFI). Menurut Mustawalad , turunnya kopi gayo akibat permintaan pembeli dari luar negeri menurun.
“Di beberapa Negara penghasil kopi dunia telah memulai masa panen sehingga berpengaruh terhadap permintaan kopi arabika gayo”, kata Mustawalad.( http://ekonomi.kompasiana.com)
[ Read More.. ]

Pak Dandim Aja Panen Padi


Dandim 0111/Bireuen Letkol Inf Muhammad Arfah bersama unsur Muspida Bireuen melaksanakan panen perdana tanaman padi di desa Lipah Rayeuk Kecamatan Jeumpa kabupaten Bireuen, Selasa (3/4).
Panen perdana dilakukan di lahan sawah kelompok tani Ingin Maju yang merupakan binaan Kodim 0111/Bireuen dengan luas lahan 5 Ha, untuk ujicoba pada tahap pertama dengan jumlah benih padi jenis ciherang sebanyak 125 Kg dan benih padi hibrida sebanyak 50 Kg, serta pupuk organik sebanyak 1,5 ton dan menghasilkan padi sebanyak sepuluh ton/ha dan telah mencapai target hasil panen nasional.
Sambutan Dandim 0111/ Letkol Inf Muhammad Arfah pada kesempatan tersebut jajaran Kodim 0111/Bireuen akan selalu siap membantu dan memfasilitasi setiap kelompok tani dalam pengembangan tanaman pangan baik padi, jagung,ubi serta tanaman pertanian lainnya dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional khususnya wilayah kabupaten Bireuen.
Lebih lanjut Dandim menyampaikan kita laksanakan program ketahanan pangan ini untuk meningkatkan hasil panen sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi petani kita.  Harapan Dandim semoga kegiatan ini kedepan dapat lebih ditingkatkan lagi jangan pernah merasa puas dengan hasil yang telah dicapai, demikian,” ujar Dandim (http://kodam-im.mil.id)
Apakah selepas dari program Kodim ini ada yang melanjutkan?
Disinilah peran Penyuluh Pertanian Lapangan dalam rangka meningkatkan Produksi Padi dan ketahanan pangan, peran PPL sangat diharapkan untuk pemberdayaan petani.


[ Read More.. ]

Sabtu, 07 April 2012

Du Hai THL TBPP

Karya : Hendry Namploeh

sudah nasib jd abdi negara,
gaji habis tak tersisa,
THR hanya tinggal cerita.
katanya hrus setia pda negara,
namun TC dan uang minum hanya janji pejabat negara.tp entah kapan kita bisa Di angkat,
mau demo di coret SK,
mau melawan takut di pindah kerja.
berkembang sedikit di periksa KPK.
Hati dongkol wajah ceria,
ekstrim sedikit karier binasa.

[ Read More.. ]

Kuala Kecamatan Pesisir Bireuen Produksi Sayur Puluhan Ton Per Hari

Kecamatan Kuala merupakan kecamatan yang berada dalam wilayah administrasi pemerintahan kabupaten Bireuen, wilayah kecamatan kuala terbagi 20 Desa diantaranya Balee Kuyun, Cot Batee, Cot Glumpang, Cot Kuta, Cot Lagasawa, Cot Trieng, Cot U Sibak, Cot Unoe,   Glumpang Baroh,  Kareuen,  Krueng Juli Barat,  Krueng Juli Timu, Kuala Raja, Kuta Baro, Lancok - Lancok, Lancok Pante Ara, Ujong Blang,  Ujong Blang Mesjid,  Weu Jangka , Lhok Awe – Awe, dulu Kecamatan Kuala di kenal sebagai penghasil benur udang windu berkualitas karena di kecamatan tersebut banyak Nursery Udang windu. Setelah wabah penyakit white spot pada awal 90 an yang menyerang udang, banyak petani tambak gulung tikar pada saat itu. semagat yang dulu begitu menggebu kini telah redup ditutupi oleh kekhawatiran akan penyakit white spot pada udang. Tambak pun sudah banyak yang ditelantarkan ada juga sebagian petambak beralih keusaha budidaya ikan bandeng dan ikan nila.
Terlepas dari usaha perikanan yang mulai bangkit sedikit demi sidikit kini petani di kecamatan kuala telah banyak memulai usaha baru yaitu usaha budidaya sayur – sayuran,. Jenis – jenis sayuran yang di budidaya mulai dari sawi, bayam, kembang kol, selada, kankung dan tomat, kalau kita jalan – jalan ke desa Ujong Blang Mesjid, Ujong Balee Aron, Ujong Blang wee Jangka, Cot Unoe dan beberapa desa sekitar hampir semua pekarangan rumah warga di manfaatkan untuk budidaya sayur – sayuran. Produksi sayur dari kecamatan kuala di suplai ke beberapa kabupaten di antaranya Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Teungah, Bener Meriah, sigli dan Kota Madya Banda Aceh. Dulu saya mencari nafkah untuk keluarga dengan melaut, kadang – kadang penghasilan dari melaut tidak bisa menutupi kebutuhan keluarga apalagi untuk kebutuhan Pendidikan anak diperparah lagi dengan kondisi cuaca yang tidak bersahabat, kini perkerjaan melaut telah lama saya tinggalkan dan sekarang saya lebih focus mengusahakan budidaya sayur sayuran penghasilan yang saya dapat dari usaha baru ini bisa mencapai Rp. 100.000 s/d Rp. 250.000 per/hari itu tergantung harga sayuran di pasaran kata Idris M.Ali Petani Sayur Desa Ujong Blang Weu Jangka. Menurut pantauan Forum THL TBPP Bireuen setiap subuh menjelang pagi puluhan Mobil Pikup, becak barang dan Sepeda Motor membawa hasil panen ke Pasar. Jam 04.00 wib kami harus bangun cepat – cepat mengangkut hasil panen ke pasar, saya membawanya ke Pasar Batu Phat demikian dijelaskan Tgk. Amin Pedang sayur dari desa Ujong Blang wee Jangka.
Peran Penyuluh Pertanian dalam memberikan bimbingan dan pengawalan telah dapat meningkatkan pedapatan keluarga tani, apresiasi yang telah diberikan oleh PPL di kecamatan Kuala telah dapat ,meningkatkan taraf hidup petani kecamatan Kuala. Peran Pemerintah dalam hal ini Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) dan Dinas Pertanian Kabupaten Bireuen harus tetap di tingkatkan guna meningkatkan produksi sayur di kecamatan kuala

[ Read More.. ]
x

join to my fans at facebook