Harga Kebutuhan Pokok Pekan ini di Seputaran Pasar Bireuen : Beras Rp.........Minyak Goreng Rp.......Gula Pasir Rp.........Cabe Merah Rp.........Bawang Merah Rp........Bawang Putih Rp...........

Jumat, 19 Oktober 2012

BNN Budidayakan Buah Naga Pengganti Ganja


Banda Aceh – Badan Narkotika Nasional (BNN) berencana membudidayakan tanaman buah naga di kawasan Lamteuba, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, sebagai pengalihan tanaman ganja.
“Ada wacanakan membudidayakan tanaman buah naga sebagai pengalih tanaman ganja di beberapa kawasan di Aceh, termasuk di kawasan Lamteuba,” kata Kepala Subdirektorat Masyarakat Perdesaan BNN Dik Dik Kusnadi, di Banda Aceh (18/10/2012).
Menurut dia, dengan membudidayakan tanaman buah naga diharapkan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat, sehingga masyarakat tidak lagi menanam ganja. Apalagi, di kawasan Lamteuba sering ditemukan ladang ganja.
“Selain di Lamteuba, tanaman buah naga juga akan dikembangkan di Kabupaten Bireuen. Kami berharap tanaman ini menjadi produk unggulan masyarakat,” katanya.
“Untuk membudidayakan tanaman buah naga ini, kami akan bekerja sama dengan semua instansi pemerintah termasuk kepolisian di Aceh,” sebutnya lagi.
Ia mencontohkan pengembangan tanaman buah naga yang dilakukan Polda Aceh. Hasilnya cukup bagus dan masyarakat dapat mengikuti apa yang dilakukan kepolisian.
“Namun, untuk kawasan tanaman ganja yang selama ini sering ditemukan ladang ganja, BNN akan turun langsung, seperti di Lamteuba dan Kabupaten Bireuen,” ungkap dia.
Sementara itu, Kapolda Aceh Irjen Pol Iskandar Hasan mengatakan tanaman buah naga cocok menggantikan pola kebiasaan masyarakat menanam ganja.
“Tanaman ganja memiliki nilai ekonomis menjanjikan dan memiliki khasiat untuk kesehatan. Aceh memiliki lahan yang subur dan bisa menjadi lahan,” sebutnya.
Saat ini, kata dia, Polda Aceh sudah menanam buah naga di 1.076 cagak atau penopang kayu. Setiap cagak ada empat batang tanaman buah naga.
“Satu batang tanaman buah naga menghasilkan 30 kilogram untuk sekali panen dengan masa panen sembilan bulan. Jika harga sekilogram buah naga Rp35 ribu, maka tanaman buah naga yang ditanam di Mapolda Aceh ini bisa menghasilkan Rp700 juta,” kata Irjen Pol Iskandar Hasan

[ Read More.. ]

Rabu, 10 Oktober 2012

Buah Naga Dari Bireuen, Hasil "Karya" Tgk. Zailani


Seorang petani yang sudah berusia lanjut usia, bahkan sudah berkepala lima ternyata tidak kalah dengan para remaja. Beliau masih produktif dan agresif untuk merubah nasibnya dengan memanfaatkan lahan yang dimiliknya dengan pembudidayaan Buah Naga. 

Ini memang suatu hal yang luar biasa celoteh Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Bireuen, 
Fakhrurrazi yang juga sangat aktif selama ini turun ke lapangan bersama stafnya untuk memberikan penyluhan kepada para petani. Tampak Tgk Zailani (50) arga Gampong Lipah Rayek Kecamatan Jeumpa Kabupaten Bireuen saat ini sangat tekun dan antusias dalam membudidayakan Buah Naga sebagai usahanya untuk memberdayakan dirinya secara mandiri.          
Usaha mandiri yang ditekuninya di areal perkebunan seluas kisaran 875 meter dengan ukuran panjang 35 meter dan lebarnya 25 meter itu ditanami buah naga jenis merah semua yang dirambatkan pada 135 tembok.
                    
Menurut Tgk Zailani yang kini tekun mengembangkan Buah Naga menyebutkan, dirinya menekuni pembudidayaan jenis tanaman ini, sudah dua tahun dan pernah panen dan Alhamdulillah hasilnya baik.

Sebenarnya, membudidayakan Buah Naga yang merupakan tanaman yang tidak sulit untuk ditanam karena dapat tumbuh pada kondisi dan lingkungan yang sesuai dimanapun untuk pengembangannya. Pun demikian seharusnya kondisi pengembangannya sangat membutuhkan beberapa teknik budidaya secara intensif agar bisa mencapai produksi yang memuaskan baik jumlah maupun mutunya. Namun, ia tidak mampu melakukannya secara intensif, walaupun sudah pernah memetik hasilnya.

“Bagi saya, membudidayakan Buah Naga memang belum lazim layaknya budidaya melon dan semangka. Akan tetapi ternyata budidaya buah yang telah teruji ini sekaligus banyak mengandung khasiat bagi kesehatan,” ungkap Tgk Zailani .
            
Disebutkan, selain khasiatnya menyehatkan tubuh, juga ternyata kulit bekas setalah diambil isinya diusapkan pada kepalanya yang botak dikatakan sudah tumbuh rambutnya kembali walaupun tidak subur seperti semula.

Ditinjau Kepala BP2KP 
Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kabupaten Bireuen, Fakhrurrazi,SP, di luar agendanya semula, masih berkenan datang ke kebun Tgk Zailani setelah melakukan penyuluhan terhadap Kelompok Wanita Tani (KWT ) di Lipah Rayek pada acara petahinan di sana.  Dalam peninjauannya beliau berdialog dengan Tgk Zailani di kebunnya. Kepada Tgk Zailami , Kepala BP2KP Bireuen itu menyebutkan, bahwa membudidayakan buah naga memang tidak sulit dan tidak membutuhkan waktu lama mulai masa tanam hingga berbuah . Namun Tgk Zailani diharapkan agar melakukan perawatan dengan baik sehingga hasilnya memuaskan dan berkualitas .

Selain itu tambah Fakhrurrazi sistem dan tehnik budidaya buah naga itu perlu persiapan pembibitan dengan stek yang baik dan sehat, persiapan lahan yang sesuai dengan mengolah lapisan tanah yang sudah dibolakbalik dengan cangkul. Kemudian persiapan penanaman juga harus dengan memposisikan jarak 2 x 2,5 meter dengan lubang tanaman kedalaman 60 cm dengan lebar lubang tanaman 60 cm x 60 cm. Buat tiang beton dengan 10 cm x 10 cm, ketinggian 2,5 m bagian atas tiang diberi ban bekas sepeda motor dengan diameter 40 cm dengan arah silang dan ukuran besi 30 cm.

Begitu juga tentang pemupukan yang bertujuan meningkatkan unsur hara dalam tanah sebab pupuk sangat penting, bagi tanaman buah naga yang memang membutuhkan,apalagi dikala awal masa pertumbuhan tanaman, sejak tanaman masih muda hingga menjelang berbunga. “Saya berharap Pak Zailani terus eksis dalam membudiyakan buah naga dan bila ada hal-hal yang berkatian dengan pola tanam dan ada hambatan dan kendala dalam proses pengembangannya,pihak kami siap untuk membantu.," ungkap Fakhrurrazi didampingi Pedro (Zulhelmi-red) dan sejumlah staf PPL dari BP2KP Bireuen seraya mengagumi Tgk Zailani yang memang eksis dan tekun melakukan pembudidayaan Buah Naga

Sumber : http://www.tabloidsuarapublik.com/2012/09/buah-naga-dari-bireuen-hasil-karya-tgk.html

[ Read More.. ]

BP2KP Bireuen Gelar Penyuluhan Lewat Pemutaran Film



Bireuen – Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kabupaten Bireuen melalui petugas penyuluh melakukan pemutaran film inovasi teknologi pertanian dan perikanan ke sejumlah kelompok tani. Pemutaran Film dilakukan selama 34 kali di 17 kecamatan di kabupaten Bireuen.
“Pemutaran film merupakan salah satu kegiatan petugas penyuluh untuk memberikan informasi tentang tehnologi pertanian dan perikanan kepada kelompok tani,” ungkap Kepala BP2KP Bireuen, Fakhrurrazi SP, kepada WartaAceh.com, Jumat (21/9/2012).
Namun Fakhrurrazi menambahkan, film merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian dan perikanan, terutama  penyampaian informasi dapat disampaikan secara langsung.
“Respon masyarakat khususnya petani sangat baik, ini terlihat dari kehadiran mereka saat nonton bareng,” pungkasnya.
Melalui pemutaran film diharapkan petani lebih paham akan teknologi yang mereka dengar dan lihat serta sesuai dengan yang dilakoni dalam keseharian

Sumber : http://wartaaceh.com/bp2kp-bireuen-gelar-penyuluhan-lewat-pemutaran-film

[ Read More.. ]

Jumat, 21 September 2012

Rekomendasi THL TBPP Bireuen Tahun 2013 Yang Berkinerja Baik

Asalammualiakum wr wb

Salam untuk kita semua, setelah sekian lama kita berkerja dalam halang dan ringtang, mengabdi untuk Negara berkarya untuk petani pada penghujung tahun 2012 akhirnya Kementrian Pertanian Melalui BPSDM mengirim surat ke Masing - masing Bakorluh Tingkat Kabupaten dalam hal ini Bakorluh Bireuen di Bawah Naungan BP2KP yang intinya meminta kepada masing - masing kepala Bakorluh untuk dapat merekomendasikan THL TBPP mulai angkatan 1 sampai dengan 3 untuk yang berkinerja baik supaya nama - nama THL dapat di kirim ke Kantor BPSDM paling lambat minggu ke 2 bulan Oktober 2012. dalam hal ini BP2KP Bireuen telah merekomendasi beberapa THL TBPP yang berkinerja baik untuk di rekomendasikan ke BPSDM Kementrian Pertanian untuk Perpanjangan Kontrak Kerja Tahun 2013. Berikut Nama - Nama THL TBPP Bireuen yang di Rekomedasikan Oleh Kepala BP2KP Bireuen.

[ Read More.. ]

Sabtu, 15 September 2012

Minim Tenaga Penyuluh Pertanian Di Bireuen


Bireuen - Meskipun tenaga penyuluh pertanian di Kabupaten Bireuen sangat terbatas, namun produksi padi di kabupaten itu diatas rata-rata nasional. Berdasarkan data yang diperoleh Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Bireuen, jumlah tenaga penyuluh kontrak sebanyak 122 orang, yang tersebar di sejumlah desa dalam kabupaten tersebut.
Kepala BP2KP Bireuen, Fakrurrazi mengatakan setiap satu tenaga penyuluh membawahi satu sampai empat desa.
Ia mengakui keterbatasan tenaga penyuluh. Kalau merujuk pada UU Nomor 16 Tahun 2006 yang menyatakan satu desa harus memiliki satu penyuluh.
“Memang kita akui tenaga penyuluh di Bireuen belum lengkap seperti yang diinginkan, namun demikian kita berdayakan penyuluh yang sudah ada,” sebutnya kepada The Globe Journal, Kamis (13/9).
Kondisi tenaga penyuluh yang ada ini tambahnya lagi, harus mengetahui aspek-aspek dilapangan, minimal informasi harus disampaikan sebab penyuluh tidak sama dengan pegawai struktural.
Sumber : http://theglobejournal.com/cities/minim-tenaga-penyuluh-pertanian-di-bireuen/index.php 
[ Read More.. ]

Selasa, 11 September 2012

Penyuluh Kehutanan Kecamatan Juli Kembangkan Lebah Madu



Menurut Dalfial Fakruzi, STP, Penyuluh Kehutanan Kecamatan Juli, dikecamatan Juli sangat cocok di kembangkan budidaya Lebah madu karena potensi sari bunga yang ada tersedia cukup banyak. salah satu kegiatan percontohan yang sedangkan dikembangkan adalah di desa Paya Cut Kecamatan Juli, berikut ulasan dan tata cara budidaya ternak lebah madu.
Budidaya lebah madu sudah dikenal lama oleh masyarakat Indonesia. Secara tradisional kegiatan budidaya lebah madu ini banyak kita temui di pelosok pedesaan di pulau Jawa dan Bali sebagai kegiatan sampingan usaha tani mereka dengan menggunakan glodok dan periuk tanah. Pada masa kini kegiatan budidaya lebah madu semakin meningkat dan telah mendapat perhatian dari berbagai pihak baik dari pemerintah maupun swasta. Berdasarkan jenis lebahnya, budidaya lebah madu dapat dibedakan menjadi 2 yaitu lebah madu jenis lokal seperti Apis cerana dan lebah madu jenis unggul seperti Apis mellifera. Selain madu sebagai produk utama, hasil dari budidaya lebah madu juga menghasilkan berbagai produk sekunder semisal Bee swax, Bee venon, Bees (grood) dan Royal Jelly yang mempunyai potensi nilai ekonomi yang cukup menjanjikan.
Teknik Dalam Budidaya Lebah Madu
Pengembangan dan pengusahaan perlebahan dapat menggunakan pola sebagai berikut:
1. Pola usaha perlebahan rakyat
2. Pola perusahaan budidaya lebah


Budidaya lebah ada 2 cara yaitu:
1. Budidaya lebah secara menetap (stative bee keeping), lebah koloni diperoleh dari
    koloni yang belum dibudidayakan.
2. Budidaya lebah secara berpindah (migratory bee keeping), koloni diperoleh dari
    lebah paket
Tahapan-tahapan Dalam Usaha Budidaya lebah Madu
1. Persiapan tanaman pakan lebah, untuk kegiatan ini diperlukan evaluasi
    produktivitas bunga pakan lebah, pemanfaatan tanaman (memanfaatkan bunga-
    bunga yang ada di sekitarnya dan pembuatan tanaman dengan mengikuti pola
    agroforestry).
2. Pemilihan lokasi dengan syarat sebagai berikut:
    a. Tersedia cukup pakan lebah pada radius terbang Apis cerana : 0,5-0,7 km
        sedangkan pada Apis mellifera : 1,5-2 km
    b. Suhu udara antara 25-30 derajat celcius dengan kelembapan 70-80 %
    c. Tersedia cukup air bersih dan sirkulasi udara yang cukup baik
    d. Jauh dari ganggungan (bau, asap, kebisingan, hama dan penyakit serta angin
        kencang pada jam 11.00-14.00 WIB)
    e. Kotak menghadap ke timur agar cukup sinar matahari pagi dengan jarak
        antara kotak 1-2 m dengan ketinggian kotak minimum 30 cm dari tanah
        dengan type kotak type langstroth.
3. Cara memindahkan / memperbanyak koloni lebah adalah sebagai berikut:
    a. Alat : pisau, alat pengasap, sarung tangan dan tali
    b. Caranya:
        1). Apis cerana
             – Sarang diasapi
             – Irislah 4 sisiran sarang dengan hati-hati lalu diikat pada sarang yang telah
               disiapkan
             – Cari dan tangkap ratunya, potong sedikit sayapnya dan masukkan lebah
               ratu ke dalam sangkar yang telah diberi sangkar pengeram
             - Letakkan kotak lebah di tempat terbuka untuk menarik anggota koloni
               lainnya
             – Setelah jumlah cukup, kotak ditutup agar lebah tidak terbang lagi, dan
               hari berikutnya kotak dibuka
             – Setelah 3 hari lebah tidak akan pindah lagi
        2). Apis mellifera
             – Siapkan kotak dengan 6-7 bingkai sarang, pintu kotak ditutup dan berikan
               sirup kaleng di dalamnya
             – Tiriskan 4-5 sisiran sarang pengeraman dari kotak lama dan masukkan
               ke kotak baru
             – Pindahkan kotak tersebut sejauh 2 km
             – Kotak ditutup dan sesudah 24 jam dapat dibuka kembali
             – Sesudah 5 hari periksa sisiran sarang bila terdapat lebih dari 1 sel ratu,
               pilih salah satu yang terkuat dan lainnya dibuang
4. Menyiapkan masa panen
    a. Kotak madu diisi 10 sisiran madu kosong
    b. Antara kotak pengeraman dan kotak madu diberi sekat
    c. Sisiran madu yang telah tertutup lilin berarti siap panen
    d. Pemanenan dilakukan setelah 7 hari penutupan
5. Cara panen
    a. Pakailah sarung tangan dan masker/topeng dengan waktu panen pada pagi
        atau sore hari
    b. Pilih sisiran yang sudah penuh atau hampir penuh madu dan tertutup lilin,
        kemudian bersihkan sisiran tersebut dari lebah dengan menggunakan sikat
        lebah
     c. Kupaslah sisiran dengan mengunakan pisau dan ambillah madu dari sisiran
         menggunakan ekstraktor atau alat lain
     d. Kembalikan sisiran kosong ke dalam kotak madu lagi
     e. Panen pertama dilakukan setelah 3 bulan dari pemindahan koloni dan panen
         selanjutnya setiap 1 bulan
6. Memberi makan lebah
    a. Pada saat musim bunga, lebah dapat dibantu diberi makanan stimulasi berupa
        campuran antara lain tepung sari, bubuk kedelai dan vitamin B
    b. Pada musim paceklik diberi larutan sirup dengan perbandingan 1:1
7. Bila ada koloni ratu maka perlu:
    a. Digabungkan ke koloni lain yang ada ratunya, atau
    b. Mengambil satu sisir sarang yang ada sel ratu, lalu digabungkan
[ Read More.. ]

Sabtu, 11 Agustus 2012

PERAN PENYULUH KEHUTANAN DALAM PEMBERDAYAAN KELOMPOK USAHA PRODUKTIF (KUP)


Oleh : Ady Shihang Penyuluh Kehutanan Kabupaten Bireuen
I. PENDAHULUAN

Kebijakan pembangunan nasional khususnya pembangunan kehutanan sebagaimana tertuang dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara tahun 1999, Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dan dalam peraturan perundangan lainnya telah mengalami perubahan ke arah yang lebih menitik beratkan upaya pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah berusaha mengoptimalkan keterlibatan aktif masyarakat, terutama masyarakat desa hutan, yaitu masyarakat yang hidup dan kehidupannya bergantung pada sumberdaya hutan. Tujuannya antara lain membangun masyarakat desa hutan sejahtera, yang diukur tidak hanya dari kemajuan fisik dan ekonomi melainkan juga dari solidaritas sosial yang tinggi dan komitmennya terhadap pelestarian sumberdaya hutan dan lingkungan.

Penyuluh kehutanan memiliki peran yang strategis dalam upaya pemberdayaan masyarakat, karena penyuluh bukan saja berperan dalam prakondisi masyarakat agar tahu, mau dan mampu berperan serta dalam pembangunan kehutanan, akan tetapi penyuluh kehutanan harus terus menerus aktif dalam melakukan proses pendampingan masyarakat sehingga tumbuh kemandirian dalam usaha/kegiatan berbasis kehutanan.

Penyuluhan kehutanan pada hakekatnya adalah upaya pemberdayaan masyarakat, dunia usaha, aparat pemerintah pusat dan daerah, serta pihak-pihak lain yang terkait dengan pembangunan kehutanan. Kegiatan penyuluhan kehutanan menjadi investasi dalam mengamankan dan melestarikan sumberdaya hutan sebagai aset negara dan upaya mensejahterakan masyarakat.

II. PERAN PENYULUH KEHUTANAN

Peran penyuluh kehutanan dalam pemberdayaan masyarakat dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Pendamping Masyarakat

Kegiatan pendampingan terutama diarahkan dalam memfasilitasi penguatan kelembagaan masyarakat dan kegiatan usaha ke arah masyarakat

yang mandiri berbasis pembangunan kehutanan.

1.1. Fasilitas Penguatan Kelembagaan Masyarakat

Sebagai tahap awal dari proses pemberdayaan masyarakat dan menjadi kunci untuk melihat keberhasilan penyuluh dan kegiatan penyuluhan dalam pembentukan dan pengembangan kelembagaan masyarakat di wilayah kerjanya.

Penyuluh kehutanan harus berperan dalam memfasilitasi penguatan dan peningkatan kapasitas pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan pentingnya kelompok/kelembagaan yang kuat dan mandiri. Pada gilirannya akan tumbuh kesepakatan, kerjasama, dan jaringan kerja (net working) antar kelompok, antar desa dan antar kecamatan.

Strategi pendekatan fasilitasi yang dilakukan antara lain : pemantapan organisasi kelompok; peningkatan kwalitasi managerial sistem usaha; pemantapan kesepakatan/aturan; pencarian bantuan sumber daya permodalan; sarana dan prasarana.

Indikator yang mencirikan telah terbentuk dan berkembangnya kelembagaan masyarakat yang kuat dan mandiri yaitu dengan kriteria sebagai berikut :

a. Terbentuknya kelompok tani dengan SDM anggota masyarakat yang mantap.

b. Memiliki organisasi dan pengurus serta mempunyai tujuan yang jelas dan tertulis.

c. Memiliki kemampuan manajerial dan kesepakatan/aturan adat yang ditaati bersama.

1.2. Pendampingan Kegiatan Usaha Masyarakat

Peran penyuluh kehutanan dalam pendampingan kegiatan usaha masyarakat berbasis kehutanan harus dilaksanakan secara terus menerus sejalan dengan tingkat produktifitas, jenis aktifitas dan sistem kegiatan usaha. Berkembangnya kegiatan dan usaha Kelompok Masyarakat Produktif Mandiri (KMPM) berbasis pembangunan kehutanan, mencirikan telah terwujudnya kemandirian secara sosial dan ekonomi.

Beberapa kriteria telah berkembangnya KPMK berbasis pembangunan kehutanan antara lain adalah sebagai berikut :

a. Telah berkembang kelompok masyarakat dengan sistem usaha dan aktivitas kegiatan yang produktif berbasis pembangunan kehutanan.

b. Telah memiliki sumberdaya pendukung antara lain permodalan dan sarana/prasarana.

c. Telah berkembang kemitraan dengan multipihak sehingga terjadi sinergi dalam pemanfaatan fungsi sumberdaya hutan yang optimal dan lestari.

d. Kesejahteraan masyarakat secara sosial dan ekonomi meningkat.

Sistem usaha dan aktifitas kegiatan yang bersifat produktif dari KMPM

berbasis pembangunan kehutanan dapat berupa kegiatan dengan orientasi sebagai berikut :

a. Produksi hasil hutan : hutan produksi, hutan rakyat, hutan kemasyarakatan, agroforestry dan aneka usaha kehutanan.

b. Konservasi Lingkungan : Pengendalian kebakaran hutan, penangkaran satwa, budidaya flora/tanaman langka perlindungan sumber airdan lain-lain.

c. Usaha pemanfaatan jasa lingkungan : Hutan wisata.

Strategi pendekatan dalam pendampingan yang dapat dilakukan adalah melalui: asistensi teknis pelatihan/ alih teknologi mulai dari perencanaan, tehnik budidaya dan pengolahan hasil, keterampilan, sistem agrosilvobisnis dan lain-lain.

Fasilitas kemitraan dengan dunia usaha dan para pihak lainnya, antara lain dengan memperhatikan akses informasi teknologi dan pasar, insentif sumberdaya guna peningkatan usaha dan lain-lain.

2. Mengorganisir Masyarakat

Penyuluh kehutanan diharapkan mampu mengorganisir masyarakat (community organizer) yaitu dengan memfasilitasi masyarakat dalam membentuk kelompok-kelompok organisasi yang peduli akan kelestarian hutan dan lingkungan. Untuk dapat menggerakkan dan memotivasi masyarakat, penyuluh kehutanan harus aktif, terpercaya dan diakui integrasinya serta mampu meyakinkan dan kompeten dalam bidang tugasnya.

Beberapa indikator yang menunjukkan keberhasilan penyuluh dalam mengorganisir masyarakat antara lain :

a. Terbentuknya pusat/sentra penyuluhan di pedesaan.

b. Berkembangnya forum-forum di desa atau kecamatan yang peduli akan hutan dan pembangunan kehutanan.

c. Meningkatnya partisipasi masyarakat secara swadaya dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.

3. Pengawal Pembangunan Kehutanan

Penyuluh kehutanan diharapkan mampu berperan dalam mengawal keberhasilan dari setiap program pembangunan kehutanan yang diprakarsai pemerintah. Keterlibatan dan partisipasi masyarakat akan sangat menentukan suksesnya suatu program.

Sosialisasi akan maksud dan tujuan serta manfaat dari suatu program perlu dilakukan agar timbul pemahaman yang baik dan menyeluruh. Dari hasil pengamatan lapangan, suatu program yang disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat menunjukkan tingkat keberhasilan yang lebih signifikan. Sebaliknya kegiatan yang dilakukan tanpa melalui upaya penyuluhan, tingkat keberhasilannya umumnya kurang menggembirakan.

Beberapa indikator yang dapat menimbulkan keberhasilan penyuluh kehutanan dalam mengawal pembangunan kehutanan antara lain :

a. Tercapainya volume fisik yang ditargetkan dan memenuhi kualitas yang dikehendaki.

b. Peningkatan pemahaman masyarakat akan maksud dan tujuan kegiatan dan menjadi kebutuhan baginya.

c. Kesediaan masyarakat untuk mengikutsertakan dana, asset, sarana/ prasarana, tenaga, dalam upaya mensukseskan program.

Sehingga mampu mempertahankan aneka usaha masyarakatyang berbasis kehutanan dan peduli kepada sumberdaya alam berupa hutan.

4. Mengamankan Aset Negara berupa Hutan.

Penyuluh kehutanan memiliki peran ganda yaitu selain sebagai fasilitator pemberdayaan masyarakat di bidang kehutanan, mereka juga mempunyai kewajiban untuk melakukan tugas perlindungan dan pelestarian hutan yang merupakan aset negara.

Penyuluh kehutanan dituntut untuk mampu mengajak masyarakat merasa ikut memiliki dan wajib memelihara, mempertahankan melindungi sumber daya hutan dari berbagai gangguan keamanan hutan (kebakaran hutan, penebangan liar, perambahan, dan sebagainya).

Beberapa indikator yang menunjukan keberhasilan penyuluh kehutanan dalam membawakan perannya sebagai pengaman aset negara berupa hutan antara lain:

a. Telah terdapat kesepakatan desa dalam melarang penduduk desa menebang kayu di kawasan hutan.

b. Telah ada upaya-upaya masyarakat sekitar hutan untuk mencegah terjadinya penebangan liar yang dilakukan pihak luar.

c. Telah ada ketentuan-ketentuan desa untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan.

Keberhasilan seorang penyuluh kehutanan untuk melaksanakan perannya dengan baik, tentunya tidak dapat ditentukan oleh faktor internal dari si penyuluhnya sendiri saja, tetapi juga sangat tergantung pada faktor-faktor eksternal. Faktor internal menyangkut kemampuan dan kwalitas dari SDM penyuluhnya yang ditentukan oleh tingkat kompetensinya dalam menjalankan tugas. Faktor eksternal yang menentukan adalah prerhatian serta dukunga dari pikah pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Dukungan pemerintah (pusat, propinsi, dan kabupaten/kota) meliputi unsur: kelembagaan, sarana, prasarana, SDM, pendanaan, aksesibilitas, regulasi, penghargaan, dan lain-lain.

Dukungan dari dunia usaha terutama dalam hal membuka peluang pasar, modal kerja, bimbingan kwalitas, dan dukungan kegiatan penyuluhan. Sedangkan dukungan dari masyarakat sendiri terutama dalam pemahaman dan kepedulian akan peningkatan mutu kehidupannya dan mutu lingkungan hidup sekitarnya.

III. PENUTUP

Guna mengantisipasi berbagai tantangan pembangunan kehutanan, maka sumber daya manusia (SDM) penyuluh kehutanan pada era otonomi daerah ke depan diharapkan dapat didukung oleh tenaga-tenaga fungsional yang handal dan profesional. Oleh karena itu, para tenaga penyuluh kehutanan haruslah memiliki kompetensi dalam menjalankan tugas dan fungsinya antara lain sebagai berikut:

1. Menguasai teknologi penyuluhan yang meliputi antara lain: metode, materi, komunikasi, teknik fasilitasi, dan teknik penyuluhan.

2. Menguasai teknologi pemberdayaan masyarakat yang meliputi pendampingan dan penguatan kelembagaan.

3. Memiliki pengetahuan substansi kehutanan yang meliputi: issu kehutanan, kebijakan kehutanan, lembaga kehutanan dan teknologi kehutanan.

4. Memahami sistem agrisilvobisnis yang meliputi: pengetahuan sosial ekonomi dan pemasaran di bidang agrisilvobisnis.
[ Read More.. ]
x

join to my fans at facebook