Harga Kebutuhan Pokok Pekan ini di Seputaran Pasar Bireuen : Beras Rp.........Minyak Goreng Rp.......Gula Pasir Rp.........Cabe Merah Rp.........Bawang Merah Rp........Bawang Putih Rp...........

Selasa, 12 Maret 2013

Seorang Pria Buka Sekolah Jurusan Budidaya Ganja

Seorang warga Maine, Amerika Serikat (AS), telah menanam ganja selama 30 tahun. Kini, pria itu membuka sekolah cara menanam ganja berkualitas obat. Seperti apa?
Di bawah hukum ganja obat Maine, pasien terdaftar, pengasuh dan apotek bisa secara legal menanam ganja di rumah. Kelas pertama diselenggarakan pada awal April di Portland, Maine, dan berhasil menarik 15 mahasiswa yang kebanyakan terdaftar sebagai pasien medis ganja yang ingin menanam ganja sendiri untuk mengobati gejala medis. Mahasiswa ini tak ingin membayar ratusan ribu rupiah untuk membeli ganja di pengasuh atau apotek berlisensi.
"Ada kebutuhan sangat besar (pengetahuan), dan beberapa orang tak yakin di mana mendapatkannya,” kata Logan seperti dikutip pressherald.com.  Kelas kedua Logan dijadwalkan pada 7 Mei di Auburn, Maine. Ia berharap mahasiswanya kan berlipat ganda dibanding kelas pertama. Biaya kelas tiga jam itu sebesar US$59-79 (Rp510.000-Rp680.000) untuk siswa, warga senior dan veteran.
Untuk menghindari masalah dengan pihak berwenang, Logan menggunakan kemangi dan tanaman legal lain menggantikan ganja ketika mendemonstrasikan teknik penanaman di kelas. Toko tamanan indoor di Portland, HTG Supply, menyediakan peralatannya.
Di Maine, kartu pendaftaran telah diterbitkan untuk 982 pasien medis ganja, salah satunya adalah Logan. Ia legal secara hukum menggunakan obat itu selama bertahun-tahun untuk mengurangi rasa sakit akibat kecelakaan skydiving pada 1996. "Karena hal ini, orang-orang akan mengatakan, ‘Wow, mungkin ada sesuatu yang lebih dari sekadar ganja’,” kata Logan. "Saya rasa, orang akan melihat betapa menakjubkannya daun ganja," tutupnya.

[ Read More.. ]

Jumat, 25 Januari 2013

EXPEDISI KE KEBUN APEL ACEH TENGAH


Tanggal 6 Januari 2013 Kami Rombonga Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen berangkat Menuju ke Aceh Tengah. Tujuan Utama Kami adalah Kebun yang ada di Kecamatan Lingge Desa Despot. kami berangkat dari Bireuen Ke Aceh Tengah Jam 07.00 wib sungguh persiapan yang cukup Pagi kami berharap bisa sampai ke kebun apel lebih awal dan bisa menikmati panorama alam kebun apel yang sejuk dan asri, perjalan yang jauh dan melelahkan kami sampai di Kota Takengon Jam 11.30 WIB disana rombongan kami istirahat sebentar dan membeli nasi bungkus yang rencananya kami bisa sampai ke Tujuan dengan cepat dan bisa menikmati nasi bunksus dengan panorama alam kebun apel yang mengasyikkan. setelah membeli Nasi bungkus dan rehat kopi di kota Takengon Bus yang membawa kami memutar ke selatan menuju ke Pegasing sesampai di pegasing Bus berhenti dan naik seorang pemandu yang akan membawa kami ke kebun Apel, Bus Melanjutkan Perjalan perjalan dari Pegasing ke Lingge sungguh perjalan yang mendebarkan, kenapa mendebarkab? karena jalan menuju ke Lingge sangat sempit dan sisi Kanan Jalan teradapat Jurang yang sangat dalam. selain jurang yang sagat dalam jalan juga penuh dengan tikungan tajam, 2 – 3 penumpang Bus sampai muntah – muntah. memasuki Kecamatan Lingge Bus Putar Haluan ke arah Timur memasuki jalan desa yang sempit pertama kami harus melewati jembatan kayu sempit dan ada beberapa lubang disisi kanan jembatan, beberapa penumpang dari turun mengecek kondisi jembatan. setelah mengecek kondisi jembatan yang baru bus melewati jembatan tersebut beberapa puluh meter dari jempatan bus harus mendaki yang cukup tinggi dengan kondisi jalan berbatu  dan rusak,,,Sopir Bus harus extra hati – hati. kemudian bus melanjuti perjalan hingga tiba pada sebuah tikungan dengan jalan yang mendaki,,,,,akhirnya Sang Sopir menyerah kamipun menyerah dengan melihat jalan yang cukup mendaki kami tidak bisa ambil resiko, kemudian kami menanyakan pada masyarakat di sekitar : mereka menjawab kebun Apel masih harus menempuh perjalan 2 KM lagi dengan jalan yang cukup mendaki, mereka bilang kalau BUS kemukinan tidak bisa lewat yang bisa melewati kesana hanya mobil – mobil tertentu yang bisa melewati medan berat seperti double cabin dan sejenisnya. akhirnya kami kecewa perjalan ke kebun apel tidak kesampaian, kami harus berbalik arah andai Pemerintah Aceh Teungah Membangun Akses Jalan Menuju Kebun Apel Pasti akan ramai yang berkunjung kesanan, ini merupakan daya tarik wisata yang baru di Aceh tengah. baik lah teman – teman walau kami tidak sampai kebun apel saya akan mengulas sidkit kutipan yang membahas kebun Apel di Aceh Tengah

Kutipan : http://www.ciputraentrepreneurship.com/
Awalnya banyak pihak pesimistis terhadap usaha Siswanto (51) membudidayakan apel di Aceh Tengah, negeri yang lebih dikenal sebagai lumbung kopi. Tapi penduduk Kampung Despot Linge, Kecamatan Linge, Aceh Tengah ini tetap optimistis bahwa apel juga cocok dikembangkan di negeri berhawa sejuk itu. Kini, keyakinannya terbukti. Sekali panen apel, ia bisa meraup omzet Rp 8 juta.
Beberapa jenis apel, di antaranya apel manalagi, ana, rome beauty, australi, dan wangling, kini tumbuh subur di kebun Siswanto yang berada di belakang rumahnya. 
Apel dari kebun Pak Sis--demikian ia biasa disapa--kini laris manis. Bahkan banyak warga yang sengaja menunggu-nunggu kapan jadwal panen. Saat panen tiba, pengunjung dipersilakan Pak Sis memetik sendiri apel yang ranum dari pohonnya. Mirip di Taman Buah Mekarsari, Jawa Barat. Tapi jika hendak dibawa pulang, Pak Sis membanderol apelnya dengan harga Rp 25 ribu per kilogram.
Kini konsumen apel Pak Sis bukan cuma dari Aceh Tengah, tetapi banyak juga yang berasal dari daerah lain. “Untuk kebun apel yang ada sekarang, sekali panen bisa menghasilkan duit sekitar Rp 8 juta. Tapi kendala yang kami hadapi saat ini adalah akses jalan kemari yang belum begitu bagus,” ungkap Siswanto seperti dikutip dari Serambi Indonesia.
Di tengah keterpakuan masyarakat Dataran Tinggi Gayo yang hanya mengandalkan tanaman kopi sebagai komoditas primadona, Pak Sis telah membuktikan bahwa budidaya apel pun bisa mendatang banyak duit di kabupaten berhawa sejuk ini.
Apel benar-benar telah menyumbangkan kesejahteraan bagi suami Sri Suyati ini. Ia sudah bisa membeli dua mobil. Tidak lagi hidup menumpang karena sudah mampu membangun rumah sendiri. “Kami sekeluarga juga bisa pulang pergi ke kampung halaman di Malang,” ujarnya.
Dari namanya, mudah ditebak kalau Siswanto bukan asli Aceh. Ia berasal dari Kabupaten Malang, Jawa Timur. Tapi Aceh adalah “tanah air” kedua baginya. Pak Sis sekeluarga awalnya menjadi transmigran di Despot Linge, Aceh Tengah pada 1995. Tapi saat eskalasi konflik berkecamuk menjelang akhir ‘90-an, ia terpaksa eksodus dari Aceh tahun 2000.

Pak Sis memboyong keluarganya ke tanah kelahirannya di Malang, Jawa Timur. Semua harta benda, termasuk kebun kopi dan rumah, terpaksa ia jual murah untuk ongkos pulang ke Jawa. Ia tak ingin menjadi korban konflik yang saat itu semakin tak tentu arah.

Sesampai di Malang, Pak Sis justru tak betah. Soalnya, bangun pagi cuma lihat dinding rumah tetangga. Kondisi itu hampir lima tahun dirasakan, lalu ia putuskan untuk kembali ke Aceh Tengah.
Ketika di Aceh diberlakukan darurat sipil, pada saat itulah, September 2004, Siswanto kembali ke Gayo bersama keluarganya. “Awal kedatangan kami yang kedua ke Despot Linge ini, saya dan keluarga menumpang lantaran tak punya rumah. Memulai hidup baru harus merintis lagi dari nol. Sambil menggarap kebun kopi, saya berjualan sayur dan pisang,” kenangnya.

Pria berkumis tebal ini juga coba-coba menanam apel. Awalnya hanya empat batang bibit apel yang ia bawa dari Malang. Setelah tampak tumbuh subur, barulah ditambah Pak Sis beberapa batang lagi. “Dengan modal pertama 16 batang apel, sekarang saya sudah punya lahan sekitar 1,5 hektare yang seluruhnya ditanami apel berbagai jenis,” kata Pak Sis.     

Tantangan terberat yang dia rasakan awalnya adalah sikap pesimis para tetangganya yang menganggap budidaya apel Pak Sis bakal berbuah kesia-siaan. Maklum, Gayo bukan Jepang, juga bukan Virginia atau Seattle di mana apel bisa hidup subur dan berbuah. Pak Sis hanya punya satu teori, kalau di Malang yang berhawa sejuk apel bisa berbuah, mengapa tidak jika ditanam di Takengon yang juga sejuk?
Tapi Pak Sis pernah sedih karena beberapa warga yang dia beri bibit apel, justru menjadikannya sebagai tanaman pagar karena menganggap tak bakal berbuah.  Kini anggapan itu terbantah. Pohon-pohon apel di belakang rumah Pak Sis mulai menghasilkan rupiah sebagai hasil penjualan apel miliknya. “Apel ini mulai banyak produksinya tahun 2008. Sampai sekarang terus berbuah. Dalam setahun dua kali panen,” katanya.
Kini Pak Sis menambah lagi 1,5 hektare luasan kebun apelnya. Sementara itu, puluhan pohon apel yang tumbuh subur di belakang rumahnya telah mendongkrak ekonomi keluarga Pak Sis, sehingga ia menjadi terkenal. “Ibu Bupati Aceh Tengah pernah datang kemari untuk membeli apel dari kebun saya,” ungkap Pak Sis.
Selain berkebun apel, ia juga memiliki kebun kopi. “Sekarang kebun kopi saya ada tiga hektare. Ditambah lagi dengan kebun apel yang baru ditanami seluas 1,5 hektare,” ujar Siswanto.
[ Read More.. ]

Rabu, 23 Januari 2013

Kontrak Kerja THL TBPP Tahun 2013

Setelah Lama Menunggu Akhirnya Draf Kontrak untuk THL TBPP Angkatan I, II dan III Keluar Juga

Berikut ini Draf Kontrak Kerja Format MS.Word :

Draf Kontrak Kerja Untuk THL Donwload

Draf Kontrak Kerja Untuk P2K Donwload
[ Read More.. ]

Minggu, 13 Januari 2013

QUISIONER FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETERTARIKAN PETANI PADA USAHA BUDIDAYA KAKAO

Bagi Yang Membutuhkan Quisioner kakao ini ada, Tinggal Sedot aja....

Donload Quisioner :  Disini
[ Read More.. ]

Senin, 31 Desember 2012

Harga Enceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi


bahwa dalam rangka mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional  pupuk sangat  berperan  penting dalam
peningkatan produktivitas dan produksi komoditas pertanian, tetapi kondisi dilapangan bukan sesuai dengan harga resmi, kita patut menanyakan kenapa hal demikian terjadi? ada apa dengan harga pupuk kita, mari kita awasi bersama.. berikut Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) NOMOR: 69/Permentan/SR.130/11/2012 Download Permentan

[ Read More.. ]

Jumat, 21 Desember 2012

Definisi, Falsafah dan Peran Penyuluhan Pertanian


berkelanjutan, diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang berguna dalam menunjang pembangunan pertanian. Peningkatan kualitas ini tidak hanya dalam peningkatan produktivitas para petani, namun dapat meningkatkan kemampuan mereka agar dapat lebih berperan dalam berbagai proses  pembangunan.
Penyuluhan pertanian meru­pakan faktor yang penting dalam me­wujudkan tujuan pembangunan perta­nian tersebut. Van den Ban dan Hawkins (1999) mengemukakan peranan utama penyuluhan di banyak negara pada masa lalu dipandang sebagai alih teknologi dari peneliti ke petani, namun sekarang peranan penyuluhan lebih dipandang sebagai proses membantu petani untuk mengambil keputusan sendiri dengan cara menambah pilihan bagi mereka, dan dengan cara menolong mereka mengembangkan wawasan mengenai konsekuensi dari masing-masing pilihan itu.
Definisi Penyuluhan
Istilah penyuluhan telah dikenal secara luas dan diterima oleh mereka yang bekerja di dalam organisasi pemberi jasa penyuluhan, tetapi tidak demikian halnya bagi masyarakat luas. Menurut Van den Ban dan  Hawkins  (1999) istilah penyuluhan dalam bahasa Belanda digunakan kata voorlichting yang berarti memberi penerangan untuk menolong seseorang menemukan jalannya. Istilah ini digunakan pada masa kolonial bagi negara-negara jajahan Belanda, walau­pun sebenarnya penyuluhan diperlukan oleh kedua belah pihak. Namun, Jahi (Mardikanto, 1993) menye­butkan istilah penyuluhan pada dasarnya diturunkan dari kata “Extension” yang dipakai  secara meluas di banyak kala­ng­an. Extension itu sendiri, dalam ba­hasa aslinya dapat diartikan sebagai perluasan atau  penyebarluasan. Proses penyebarluasan yang dimaksud adalah proses peyebarluasan informasi yang berkaitan dengan upaya perbaikan cara-cara   bertani dan berusahatani  demi ter­capainya peningkatan produktivitas, pendapatan petani, dan perbaikan kese­jahteraan keluarga atau masyarakat yang diupayakan melalui kegiatan pemba­ngunan pertanian.
Tujuan yang sebenarnya dari penyu­luhan pertanian adalah terjadinya pe­rubahan perilaku sasarannya. Sejalan dengan hal ini Syahyuti et al. (1999) menyebutkan tujuan yang ingin dicapai penyuluhan pertanian adalah  mengembangkan kemampuan petani secara bertahap agar memiliki tingkat pengetahuan yang semakin meningkat, perbendaharaan informasi yang memadai dan kemampuan meng­aplikasikan teknologi yang dibutuhkan sehingga akhirnya mampu memecahkan masalah serta mengambil keputusan  yang  terbaik  untuk  usahataninya. Jadi, penyuluhan pertanian bukan sekedar menyampaikan informasi kepada petani lalu berhenti, tetapi berlanjut sampai pada dampaknya yang ada efek per­bai­kan langsung yang menguntungkan.

Falsafah Penyuluhan Pertanian
Dahama dan Bhatnagar (Mardikanto, 1993) mengartikan falsafah sebagai landasan pemikiran yang bersumber kepada kebijakan moral tentang segala sesuatu yang akan dan harus diterapkan di dalam praktek.
Paulian (1987) menyatakan falsafah penyuluhan perta­nian diantaranya  adalah: Pertama, Be­lajar dengan mengerjakan sendiri adalah efektif; apa yang dikerjakan atau dialami sendiri akan berkesan dan melekat pada diri petani atau nelayan dan menjadi kebiasaan baru. Kedua, Belajar melalui pemecahan masalah yang dihadapi ada­lah praktis; kebiasaan mencari kemung­kinan-kemungkinan yang lebih baik dan menjadikan petani seseorang yang ber­prakarsa dan berswadaya. Ketiga, Ber­peranan dalam kegiatan-kegiatan  menimbulkan  kepercayaan akan kemam­puan diri sendiri, program pertanian untuk petani atau nelayan dan oleh  pe­tani atau nelayan akan menimbulkan partisipasi  masyarakat tani atau nelayan yang wajar.
Peran Penyuluhan Pertanian
Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999) peran utama penyuluhan pada masa lalu dipandang sebagai alih teknologi dari peneliti ke petani. Sekarang peranan penyuluhan lebih dipandang sebagai proses membantu petani untuk mengambil keputusan sendiri dengan cara menambah pilihan bagi mereka, dan dengan cara menolong mereka mengembangkan wawasan mengenai konsekuensi dari masing-masing pilihan itu.
Secara rinci, Samsudin (1994) membagi peranan penyuluhan pertanian menjadi: (1) menyebarkan ilmu dan teknologi pertanian, (2) membantu petani dalam berbagai kegiatan usahatani, (3) membantu dalam rangka usaha meningkatkan pendapatan petani, (4) membantu petani untuk menambah kesejahteraan keluarganya, (5) mengusahakan suatu perangsang agar petani lebih aktif, (6) menjaga dan mengusahakan iklim sosial yang harmonis, agar petani dapat dengan aman  menjalankan  kegiatan  usahataninya, (7) mengumpulkan masalah-masalah dalam masyarakat tani untuk bahan penyusunan program penyuluhan pertanian.
Keberhasilan penyebaran suatu teknologi sebaiknya tidak terlepas dari peran penyuluh yang menjalankan fungsinya sebagai agen pembaharu.  Menurut Rogers dan Schoemaker (1986) peranan yang dijalankan oleh agen pembaharu dalam menyebarkan inovasi antara lain: membangkitkan kebutuhan untuk berubah, mengadakan hubungan untuk perubahan, mengidentifikasi masalah sasaran, memotivasi dan merencanakan tindakan perubahan.
 REFERENSI
Mardikanto, Totok. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Sebelas Maret University Press. Surakarta.
Paulian. 1987. Vadecum Bimas Volume IV. Sekertariat Badan Pengendalian Bimas. Jakarta.
Rogers dan Schoemaker.  1986.  Memasyarakatkan Ide-ide Baru.  Surabaya: Usaha Nasional.
Samsudin S, U.1994. Manajemen Penyuluhan Pertanian. Bina Cipta. Bandung.
Syahyuti et al. 1999.  ‘Kajian  Kelembagaan Penyelenggaraan  Penyuluhan Pertanian Nasional’ dalam Dinamika Inovasi Sosial Ekonomi dan KelembagaanPertanian. Penyunting (Ed.) Erizal et al.. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Van den Ban, A.W. dan H.S. Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.



[ Read More.. ]

Sabtu, 24 November 2012

Benih Padi Bantuan Berkutu dan Berdedak


BIREUEN-800 kilogram benih padi bantuan disalurkan Dinas Pertanian untuk petani melalui dua kelompok tani di kawasan Juli Keude Dua, Kecamatan Juli, Bireuen, hingga Jumat (23/11) belum dibagikan ke petani. Penyebabnya, benih tersebut dinilai tidak berkualitas. Selain berkutu dan berdedak, kondisi bulir padinya juga ada yang kosong. Benih bantuan BLBU dari Pusat itu, segera diganti lain.

Amatan dan keterangan diperoleh Rakyat Aceh, saat meninjau ke dua tempat tinggal ketua kelompok tani, dikawasan Juli. Benih padi bantuan diterima kelompok tani Blang Timu Keude dua, diterima dua hari lalu, sebanyak 20 zak, beratnya 20 kg atau setara 400 kg. Namun, karena kualitasnya tidak bagus, sehingga belum dibagikan. Kemasan benih itu juga dikemas pakai karung biasa, hanya ada tulisan biasa “Impari 13”.
Yusnidar (35) isteri dari ketua kelompok tani di Keude Dua itu menjelaskan, kini petani membutuhkan benih padi. Meskipun sudah diterima, benih bantuan itu, belum dibagikan karena tidak bagus. Kalau bantuan diberikan sebelumnya, bibit bagus dan ber-merk juga dikemas dalam kotak. “Kalau benih padi yang ini, saat dibawa banyak kutu padi atau kutu beras. Kondisinya berdedak dan buah padinya ada yang kosong,” jelasnya.
Kondisi 400 kg benih padi bantuan diterima kelompok tani Paya Sakti, di Dusun Paya, Desa Juli Keude Dua, juga sama kondisinya. 
Sebagaimana dikatakan Nazariah (38) isteri dari ketua kelompok tani itu ditemui di rumahnya, memastikan informasi diperoleh Rakyat Aceh. Dikatakan, saat dibawa banyak sekali kutu dan kondisi benih padi dalam karung sudah berdedak, juga padinya ada yang kosong.
Dikatakan juga, bantuan diberikan sebelumnya benih dikemas dan bermerk, ungkapnya. Masih ditempat itu juga, untuk memastikannya, didampinggi warga, sempat mencoba merendam, sebagian buah padi yang kosong dan langsung terapung diatas air. “Agar dapat disalurkan ke petani, dinas terkait diharapkan dapat segera menganti benih padi kurang berkwalitas itu,” harapnya.

Kadis Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan, Bireuen, Ir H Alie Basyah, dikonfirmasi Rakyat Aceh, Jumat (23/11) kemarin, menuturkan. Bantuan itu, awalnya diusulkan dinas Pertanian Bireuen ke departemen pertanian pusat. Diberikan Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) dari Pusat sebanyak 180 ton benih, melalui dinas untuk kelompok tani. “Benih itu, segera kita ganti,” ujarnya. (rah)

Sumber : http://rakyataceh.com/index.php
[ Read More.. ]
x

join to my fans at facebook