Harga Kebutuhan Pokok Pekan ini di Seputaran Pasar Bireuen : Beras Rp.........Minyak Goreng Rp.......Gula Pasir Rp.........Cabe Merah Rp.........Bawang Merah Rp........Bawang Putih Rp...........

Senin, 31 Desember 2012

Harga Enceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi


bahwa dalam rangka mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional  pupuk sangat  berperan  penting dalam
peningkatan produktivitas dan produksi komoditas pertanian, tetapi kondisi dilapangan bukan sesuai dengan harga resmi, kita patut menanyakan kenapa hal demikian terjadi? ada apa dengan harga pupuk kita, mari kita awasi bersama.. berikut Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) NOMOR: 69/Permentan/SR.130/11/2012 Download Permentan

[ Read More.. ]

Jumat, 21 Desember 2012

Definisi, Falsafah dan Peran Penyuluhan Pertanian


berkelanjutan, diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang berguna dalam menunjang pembangunan pertanian. Peningkatan kualitas ini tidak hanya dalam peningkatan produktivitas para petani, namun dapat meningkatkan kemampuan mereka agar dapat lebih berperan dalam berbagai proses  pembangunan.
Penyuluhan pertanian meru­pakan faktor yang penting dalam me­wujudkan tujuan pembangunan perta­nian tersebut. Van den Ban dan Hawkins (1999) mengemukakan peranan utama penyuluhan di banyak negara pada masa lalu dipandang sebagai alih teknologi dari peneliti ke petani, namun sekarang peranan penyuluhan lebih dipandang sebagai proses membantu petani untuk mengambil keputusan sendiri dengan cara menambah pilihan bagi mereka, dan dengan cara menolong mereka mengembangkan wawasan mengenai konsekuensi dari masing-masing pilihan itu.
Definisi Penyuluhan
Istilah penyuluhan telah dikenal secara luas dan diterima oleh mereka yang bekerja di dalam organisasi pemberi jasa penyuluhan, tetapi tidak demikian halnya bagi masyarakat luas. Menurut Van den Ban dan  Hawkins  (1999) istilah penyuluhan dalam bahasa Belanda digunakan kata voorlichting yang berarti memberi penerangan untuk menolong seseorang menemukan jalannya. Istilah ini digunakan pada masa kolonial bagi negara-negara jajahan Belanda, walau­pun sebenarnya penyuluhan diperlukan oleh kedua belah pihak. Namun, Jahi (Mardikanto, 1993) menye­butkan istilah penyuluhan pada dasarnya diturunkan dari kata “Extension” yang dipakai  secara meluas di banyak kala­ng­an. Extension itu sendiri, dalam ba­hasa aslinya dapat diartikan sebagai perluasan atau  penyebarluasan. Proses penyebarluasan yang dimaksud adalah proses peyebarluasan informasi yang berkaitan dengan upaya perbaikan cara-cara   bertani dan berusahatani  demi ter­capainya peningkatan produktivitas, pendapatan petani, dan perbaikan kese­jahteraan keluarga atau masyarakat yang diupayakan melalui kegiatan pemba­ngunan pertanian.
Tujuan yang sebenarnya dari penyu­luhan pertanian adalah terjadinya pe­rubahan perilaku sasarannya. Sejalan dengan hal ini Syahyuti et al. (1999) menyebutkan tujuan yang ingin dicapai penyuluhan pertanian adalah  mengembangkan kemampuan petani secara bertahap agar memiliki tingkat pengetahuan yang semakin meningkat, perbendaharaan informasi yang memadai dan kemampuan meng­aplikasikan teknologi yang dibutuhkan sehingga akhirnya mampu memecahkan masalah serta mengambil keputusan  yang  terbaik  untuk  usahataninya. Jadi, penyuluhan pertanian bukan sekedar menyampaikan informasi kepada petani lalu berhenti, tetapi berlanjut sampai pada dampaknya yang ada efek per­bai­kan langsung yang menguntungkan.

Falsafah Penyuluhan Pertanian
Dahama dan Bhatnagar (Mardikanto, 1993) mengartikan falsafah sebagai landasan pemikiran yang bersumber kepada kebijakan moral tentang segala sesuatu yang akan dan harus diterapkan di dalam praktek.
Paulian (1987) menyatakan falsafah penyuluhan perta­nian diantaranya  adalah: Pertama, Be­lajar dengan mengerjakan sendiri adalah efektif; apa yang dikerjakan atau dialami sendiri akan berkesan dan melekat pada diri petani atau nelayan dan menjadi kebiasaan baru. Kedua, Belajar melalui pemecahan masalah yang dihadapi ada­lah praktis; kebiasaan mencari kemung­kinan-kemungkinan yang lebih baik dan menjadikan petani seseorang yang ber­prakarsa dan berswadaya. Ketiga, Ber­peranan dalam kegiatan-kegiatan  menimbulkan  kepercayaan akan kemam­puan diri sendiri, program pertanian untuk petani atau nelayan dan oleh  pe­tani atau nelayan akan menimbulkan partisipasi  masyarakat tani atau nelayan yang wajar.
Peran Penyuluhan Pertanian
Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999) peran utama penyuluhan pada masa lalu dipandang sebagai alih teknologi dari peneliti ke petani. Sekarang peranan penyuluhan lebih dipandang sebagai proses membantu petani untuk mengambil keputusan sendiri dengan cara menambah pilihan bagi mereka, dan dengan cara menolong mereka mengembangkan wawasan mengenai konsekuensi dari masing-masing pilihan itu.
Secara rinci, Samsudin (1994) membagi peranan penyuluhan pertanian menjadi: (1) menyebarkan ilmu dan teknologi pertanian, (2) membantu petani dalam berbagai kegiatan usahatani, (3) membantu dalam rangka usaha meningkatkan pendapatan petani, (4) membantu petani untuk menambah kesejahteraan keluarganya, (5) mengusahakan suatu perangsang agar petani lebih aktif, (6) menjaga dan mengusahakan iklim sosial yang harmonis, agar petani dapat dengan aman  menjalankan  kegiatan  usahataninya, (7) mengumpulkan masalah-masalah dalam masyarakat tani untuk bahan penyusunan program penyuluhan pertanian.
Keberhasilan penyebaran suatu teknologi sebaiknya tidak terlepas dari peran penyuluh yang menjalankan fungsinya sebagai agen pembaharu.  Menurut Rogers dan Schoemaker (1986) peranan yang dijalankan oleh agen pembaharu dalam menyebarkan inovasi antara lain: membangkitkan kebutuhan untuk berubah, mengadakan hubungan untuk perubahan, mengidentifikasi masalah sasaran, memotivasi dan merencanakan tindakan perubahan.
 REFERENSI
Mardikanto, Totok. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Sebelas Maret University Press. Surakarta.
Paulian. 1987. Vadecum Bimas Volume IV. Sekertariat Badan Pengendalian Bimas. Jakarta.
Rogers dan Schoemaker.  1986.  Memasyarakatkan Ide-ide Baru.  Surabaya: Usaha Nasional.
Samsudin S, U.1994. Manajemen Penyuluhan Pertanian. Bina Cipta. Bandung.
Syahyuti et al. 1999.  ‘Kajian  Kelembagaan Penyelenggaraan  Penyuluhan Pertanian Nasional’ dalam Dinamika Inovasi Sosial Ekonomi dan KelembagaanPertanian. Penyunting (Ed.) Erizal et al.. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Van den Ban, A.W. dan H.S. Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.



[ Read More.. ]

Sabtu, 24 November 2012

Benih Padi Bantuan Berkutu dan Berdedak


BIREUEN-800 kilogram benih padi bantuan disalurkan Dinas Pertanian untuk petani melalui dua kelompok tani di kawasan Juli Keude Dua, Kecamatan Juli, Bireuen, hingga Jumat (23/11) belum dibagikan ke petani. Penyebabnya, benih tersebut dinilai tidak berkualitas. Selain berkutu dan berdedak, kondisi bulir padinya juga ada yang kosong. Benih bantuan BLBU dari Pusat itu, segera diganti lain.

Amatan dan keterangan diperoleh Rakyat Aceh, saat meninjau ke dua tempat tinggal ketua kelompok tani, dikawasan Juli. Benih padi bantuan diterima kelompok tani Blang Timu Keude dua, diterima dua hari lalu, sebanyak 20 zak, beratnya 20 kg atau setara 400 kg. Namun, karena kualitasnya tidak bagus, sehingga belum dibagikan. Kemasan benih itu juga dikemas pakai karung biasa, hanya ada tulisan biasa “Impari 13”.
Yusnidar (35) isteri dari ketua kelompok tani di Keude Dua itu menjelaskan, kini petani membutuhkan benih padi. Meskipun sudah diterima, benih bantuan itu, belum dibagikan karena tidak bagus. Kalau bantuan diberikan sebelumnya, bibit bagus dan ber-merk juga dikemas dalam kotak. “Kalau benih padi yang ini, saat dibawa banyak kutu padi atau kutu beras. Kondisinya berdedak dan buah padinya ada yang kosong,” jelasnya.
Kondisi 400 kg benih padi bantuan diterima kelompok tani Paya Sakti, di Dusun Paya, Desa Juli Keude Dua, juga sama kondisinya. 
Sebagaimana dikatakan Nazariah (38) isteri dari ketua kelompok tani itu ditemui di rumahnya, memastikan informasi diperoleh Rakyat Aceh. Dikatakan, saat dibawa banyak sekali kutu dan kondisi benih padi dalam karung sudah berdedak, juga padinya ada yang kosong.
Dikatakan juga, bantuan diberikan sebelumnya benih dikemas dan bermerk, ungkapnya. Masih ditempat itu juga, untuk memastikannya, didampinggi warga, sempat mencoba merendam, sebagian buah padi yang kosong dan langsung terapung diatas air. “Agar dapat disalurkan ke petani, dinas terkait diharapkan dapat segera menganti benih padi kurang berkwalitas itu,” harapnya.

Kadis Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan, Bireuen, Ir H Alie Basyah, dikonfirmasi Rakyat Aceh, Jumat (23/11) kemarin, menuturkan. Bantuan itu, awalnya diusulkan dinas Pertanian Bireuen ke departemen pertanian pusat. Diberikan Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) dari Pusat sebanyak 180 ton benih, melalui dinas untuk kelompok tani. “Benih itu, segera kita ganti,” ujarnya. (rah)

Sumber : http://rakyataceh.com/index.php
[ Read More.. ]

Rabu, 31 Oktober 2012

Pemuda Masa Kini Enggan Bertani


Jakarta – Sektor pertanian di Tanah Air saat ini mengalami ancaman berupa semakin minimnya sumber daya manusia (SDM) yang berkecimpung di bidang tersebut.
Fakta di lapangan menunjukkan, banyak pemuda (kelompok manusia yang berada dalam rentang usia 16-30 tahun) yang memilih menjadi buruh alih-alih petani di daerahnya.
“Urbanisasi ke kota menjadi buruh lebih menarik karena penghasilan selalu ada,” tutur Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Manimbang Kahariady, dalam diskusi bertajuk “Peran Pemuda Dalam Pertanian” di Jakarta, akhir pekan lalu.
Lebih lanjut, Manimbang menambahkan, alasan lain yang membuat pemuda enggan menjadi petani adalah penghasilan yang tidak selalu ada. Di samping itu, petani harus menanggung resiko akibat gagal panen yang disebabkan oleh penggunaan benih maupun pupuk yang tidak tepat.
Secara keseluruhan, Manimbang menilai masalah pertanian saat ini harus dicermati dari sisi internal maupun ekstenal (dalam hal ini adalah isu-isu global).  Dari sisi internal, masalah pertanian saat ini meliputi pemodalan yang minim, keterampilan, pengetahuan maupun pola pikir manajemen produksi yang belum sampai pada tahapan profit oriented.
“Selama ini lebih kepada cara hidup.  Ini jelas memengaruhi motivasi bertani yang dapat menurun, bahkan hilang,” ujar Manimbang. Sementara dari sisi eksternal, masalah pertanian saat ini meliputi perubahan iklim yang ekstrem, kebijakan pemerintah terkait impor bahan pangan, hingga kebijakan alih fungsi lahan produktif di sejumlah daerah akibat semakin berkembangnya industri maupun pemukiman.
Terkait lahan, ini karena kurangnya sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah. Faktor internal dan eksternal itu, lanjut Manimbang dapat menghambat kecukupan pangan.  Oleh karena itu, Manimbang menilai sudah saatnya seluruh pemegang kepentingan di bidang pertanian dapat menguatkan komitmennya untuk menegakkan kedaulatan pangan.
“Caranya adalah dengan menjamin ketersediaan pangan dalam negeri sehingga kebutuhan masyarakat Indonesia dapat terpenuhi,” imbuh Manimbang. [republika.co.id]


[ Read More.. ]

Sabtu, 27 Oktober 2012

Semangat Sumpah Pemuda dan Gerakan Taruna Tani Indonesia


Oleh : Arsyadi
Tak terasa sudah hampir 84 tahun berlalu dimana saat itu para pemuda pemudi di Indonesia bersatu mengucap ikrar sumpah pemuda. Beberapa kali pertemuan sebelum akhirnya membuahkan sumpah pemuda yang intinya antara lain adalah mengaku bertumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, menjunjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.
Selain itu, ikrar Sumpah Pemuda 2012 yang akan dikumandangkan merupakan penambahan dari Sumpah Pemuda 1928, yakni bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa bangsa, menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia, berideologi satu ideologi Pancasila, serta bersatu untuk tekad mengembalikan konstitusi kepada UUD 1945 teks yang asli.
Menurutnya, naskah “Sumpah Pemuda 2012 itu mengandung makna melanjutkan militansi semangat pemuda 1928 sekaligus menyatukan diri untuk masa depan yang maju, berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Semangat sumpah pemuda juga tercermin dari semangat pemuda tani atau sering sebut Taruna tani dalam berkarya memajukan pertanian Indonesia, gerakan taruna tani telah banyak ikut andil mengambil bagian dalam berbagai sector pertanian Indonesia terkandang gerakan gerakan taruna tani kurang mendapat perhatian harapan kedepan pemerintah harus bisa mengambil sikap dalam memajukan kelompok – kelompok taruna tani apalagi dengan semangat sumpah pemuda di tahun 2012 ini semoga taruna tani Indonesia makin Berjaya.

[ Read More.. ]

Kamis, 25 Oktober 2012

Ucapan Lebaran Idul Adha 1433 H


[ Read More.. ]

Harga Daging tinggi Siapa Menikmati Untung?


Banda Aceh – Harga daging di Aceh mengalami kenaikan mencapai Rp120.000 perkilo. Bahkan harga tersebut diperkirakan bakal terus meroket menjelang hari Raya Idul Adha.
Melonjaknya harga daging di sejumlah pasar tradisional Aceh disebabkan banyaknya permintaan masyarakat dan mahalnya harga jual sapi, yang rata-rata naik Rp2 juta/ekor.
Husin, salah seorang padagang daging di Pasar Peunayong, Banda Aceh, Rabu (24/10/2012), mengatakan harga daging akan terus naik mengingat mahalnya harga jual sapi per ekor.
“Harga daging sudah mencapai Rp120.000 perkilo dan mungkin akan terus naik hingga hari kurban karena permintaan masyarakat sangat tinggi,” ujarnya.
Meski harga daging melambung tinggi, namun antusiasme daya beli daging di Aceh tetap tinggi, mengingat kebiasanya masyarakat Aceh yang merayakan meugang menjelang hari raya Idul Adha.
Sementara itu, harga ayam broiler juga naik menjelang Idul Adha, di Pasar Peunayong harga ayam broiler mencapai Rp40 ribu per ekor.[mediaindonesia.com]
[ Read More.. ]

Jumat, 19 Oktober 2012

BNN Budidayakan Buah Naga Pengganti Ganja


Banda Aceh – Badan Narkotika Nasional (BNN) berencana membudidayakan tanaman buah naga di kawasan Lamteuba, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, sebagai pengalihan tanaman ganja.
“Ada wacanakan membudidayakan tanaman buah naga sebagai pengalih tanaman ganja di beberapa kawasan di Aceh, termasuk di kawasan Lamteuba,” kata Kepala Subdirektorat Masyarakat Perdesaan BNN Dik Dik Kusnadi, di Banda Aceh (18/10/2012).
Menurut dia, dengan membudidayakan tanaman buah naga diharapkan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat, sehingga masyarakat tidak lagi menanam ganja. Apalagi, di kawasan Lamteuba sering ditemukan ladang ganja.
“Selain di Lamteuba, tanaman buah naga juga akan dikembangkan di Kabupaten Bireuen. Kami berharap tanaman ini menjadi produk unggulan masyarakat,” katanya.
“Untuk membudidayakan tanaman buah naga ini, kami akan bekerja sama dengan semua instansi pemerintah termasuk kepolisian di Aceh,” sebutnya lagi.
Ia mencontohkan pengembangan tanaman buah naga yang dilakukan Polda Aceh. Hasilnya cukup bagus dan masyarakat dapat mengikuti apa yang dilakukan kepolisian.
“Namun, untuk kawasan tanaman ganja yang selama ini sering ditemukan ladang ganja, BNN akan turun langsung, seperti di Lamteuba dan Kabupaten Bireuen,” ungkap dia.
Sementara itu, Kapolda Aceh Irjen Pol Iskandar Hasan mengatakan tanaman buah naga cocok menggantikan pola kebiasaan masyarakat menanam ganja.
“Tanaman ganja memiliki nilai ekonomis menjanjikan dan memiliki khasiat untuk kesehatan. Aceh memiliki lahan yang subur dan bisa menjadi lahan,” sebutnya.
Saat ini, kata dia, Polda Aceh sudah menanam buah naga di 1.076 cagak atau penopang kayu. Setiap cagak ada empat batang tanaman buah naga.
“Satu batang tanaman buah naga menghasilkan 30 kilogram untuk sekali panen dengan masa panen sembilan bulan. Jika harga sekilogram buah naga Rp35 ribu, maka tanaman buah naga yang ditanam di Mapolda Aceh ini bisa menghasilkan Rp700 juta,” kata Irjen Pol Iskandar Hasan

[ Read More.. ]

Rabu, 10 Oktober 2012

Buah Naga Dari Bireuen, Hasil "Karya" Tgk. Zailani


Seorang petani yang sudah berusia lanjut usia, bahkan sudah berkepala lima ternyata tidak kalah dengan para remaja. Beliau masih produktif dan agresif untuk merubah nasibnya dengan memanfaatkan lahan yang dimiliknya dengan pembudidayaan Buah Naga. 

Ini memang suatu hal yang luar biasa celoteh Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Bireuen, 
Fakhrurrazi yang juga sangat aktif selama ini turun ke lapangan bersama stafnya untuk memberikan penyluhan kepada para petani. Tampak Tgk Zailani (50) arga Gampong Lipah Rayek Kecamatan Jeumpa Kabupaten Bireuen saat ini sangat tekun dan antusias dalam membudidayakan Buah Naga sebagai usahanya untuk memberdayakan dirinya secara mandiri.          
Usaha mandiri yang ditekuninya di areal perkebunan seluas kisaran 875 meter dengan ukuran panjang 35 meter dan lebarnya 25 meter itu ditanami buah naga jenis merah semua yang dirambatkan pada 135 tembok.
                    
Menurut Tgk Zailani yang kini tekun mengembangkan Buah Naga menyebutkan, dirinya menekuni pembudidayaan jenis tanaman ini, sudah dua tahun dan pernah panen dan Alhamdulillah hasilnya baik.

Sebenarnya, membudidayakan Buah Naga yang merupakan tanaman yang tidak sulit untuk ditanam karena dapat tumbuh pada kondisi dan lingkungan yang sesuai dimanapun untuk pengembangannya. Pun demikian seharusnya kondisi pengembangannya sangat membutuhkan beberapa teknik budidaya secara intensif agar bisa mencapai produksi yang memuaskan baik jumlah maupun mutunya. Namun, ia tidak mampu melakukannya secara intensif, walaupun sudah pernah memetik hasilnya.

“Bagi saya, membudidayakan Buah Naga memang belum lazim layaknya budidaya melon dan semangka. Akan tetapi ternyata budidaya buah yang telah teruji ini sekaligus banyak mengandung khasiat bagi kesehatan,” ungkap Tgk Zailani .
            
Disebutkan, selain khasiatnya menyehatkan tubuh, juga ternyata kulit bekas setalah diambil isinya diusapkan pada kepalanya yang botak dikatakan sudah tumbuh rambutnya kembali walaupun tidak subur seperti semula.

Ditinjau Kepala BP2KP 
Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kabupaten Bireuen, Fakhrurrazi,SP, di luar agendanya semula, masih berkenan datang ke kebun Tgk Zailani setelah melakukan penyuluhan terhadap Kelompok Wanita Tani (KWT ) di Lipah Rayek pada acara petahinan di sana.  Dalam peninjauannya beliau berdialog dengan Tgk Zailani di kebunnya. Kepada Tgk Zailami , Kepala BP2KP Bireuen itu menyebutkan, bahwa membudidayakan buah naga memang tidak sulit dan tidak membutuhkan waktu lama mulai masa tanam hingga berbuah . Namun Tgk Zailani diharapkan agar melakukan perawatan dengan baik sehingga hasilnya memuaskan dan berkualitas .

Selain itu tambah Fakhrurrazi sistem dan tehnik budidaya buah naga itu perlu persiapan pembibitan dengan stek yang baik dan sehat, persiapan lahan yang sesuai dengan mengolah lapisan tanah yang sudah dibolakbalik dengan cangkul. Kemudian persiapan penanaman juga harus dengan memposisikan jarak 2 x 2,5 meter dengan lubang tanaman kedalaman 60 cm dengan lebar lubang tanaman 60 cm x 60 cm. Buat tiang beton dengan 10 cm x 10 cm, ketinggian 2,5 m bagian atas tiang diberi ban bekas sepeda motor dengan diameter 40 cm dengan arah silang dan ukuran besi 30 cm.

Begitu juga tentang pemupukan yang bertujuan meningkatkan unsur hara dalam tanah sebab pupuk sangat penting, bagi tanaman buah naga yang memang membutuhkan,apalagi dikala awal masa pertumbuhan tanaman, sejak tanaman masih muda hingga menjelang berbunga. “Saya berharap Pak Zailani terus eksis dalam membudiyakan buah naga dan bila ada hal-hal yang berkatian dengan pola tanam dan ada hambatan dan kendala dalam proses pengembangannya,pihak kami siap untuk membantu.," ungkap Fakhrurrazi didampingi Pedro (Zulhelmi-red) dan sejumlah staf PPL dari BP2KP Bireuen seraya mengagumi Tgk Zailani yang memang eksis dan tekun melakukan pembudidayaan Buah Naga

Sumber : http://www.tabloidsuarapublik.com/2012/09/buah-naga-dari-bireuen-hasil-karya-tgk.html

[ Read More.. ]

BP2KP Bireuen Gelar Penyuluhan Lewat Pemutaran Film



Bireuen Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kabupaten Bireuen melalui petugas penyuluh melakukan pemutaran film inovasi teknologi pertanian dan perikanan ke sejumlah kelompok tani. Pemutaran Film dilakukan selama 34 kali di 17 kecamatan di kabupaten Bireuen.
“Pemutaran film merupakan salah satu kegiatan petugas penyuluh untuk memberikan informasi tentang tehnologi pertanian dan perikanan kepada kelompok tani,” ungkap Kepala BP2KP Bireuen, Fakhrurrazi SP, kepada WartaAceh.com, Jumat (21/9/2012).
Namun Fakhrurrazi menambahkan, film merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian dan perikanan, terutama  penyampaian informasi dapat disampaikan secara langsung.
“Respon masyarakat khususnya petani sangat baik, ini terlihat dari kehadiran mereka saat nonton bareng,” pungkasnya.
Melalui pemutaran film diharapkan petani lebih paham akan teknologi yang mereka dengar dan lihat serta sesuai dengan yang dilakoni dalam keseharian

Sumber : http://wartaaceh.com/bp2kp-bireuen-gelar-penyuluhan-lewat-pemutaran-film

[ Read More.. ]

Jumat, 21 September 2012

Rekomendasi THL TBPP Bireuen Tahun 2013 Yang Berkinerja Baik

Asalammualiakum wr wb

Salam untuk kita semua, setelah sekian lama kita berkerja dalam halang dan ringtang, mengabdi untuk Negara berkarya untuk petani pada penghujung tahun 2012 akhirnya Kementrian Pertanian Melalui BPSDM mengirim surat ke Masing - masing Bakorluh Tingkat Kabupaten dalam hal ini Bakorluh Bireuen di Bawah Naungan BP2KP yang intinya meminta kepada masing - masing kepala Bakorluh untuk dapat merekomendasikan THL TBPP mulai angkatan 1 sampai dengan 3 untuk yang berkinerja baik supaya nama - nama THL dapat di kirim ke Kantor BPSDM paling lambat minggu ke 2 bulan Oktober 2012. dalam hal ini BP2KP Bireuen telah merekomendasi beberapa THL TBPP yang berkinerja baik untuk di rekomendasikan ke BPSDM Kementrian Pertanian untuk Perpanjangan Kontrak Kerja Tahun 2013. Berikut Nama - Nama THL TBPP Bireuen yang di Rekomedasikan Oleh Kepala BP2KP Bireuen.

[ Read More.. ]

Sabtu, 15 September 2012

Minim Tenaga Penyuluh Pertanian Di Bireuen


Bireuen - Meskipun tenaga penyuluh pertanian di Kabupaten Bireuen sangat terbatas, namun produksi padi di kabupaten itu diatas rata-rata nasional. Berdasarkan data yang diperoleh Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Bireuen, jumlah tenaga penyuluh kontrak sebanyak 122 orang, yang tersebar di sejumlah desa dalam kabupaten tersebut.
Kepala BP2KP Bireuen, Fakrurrazi mengatakan setiap satu tenaga penyuluh membawahi satu sampai empat desa.
Ia mengakui keterbatasan tenaga penyuluh. Kalau merujuk pada UU Nomor 16 Tahun 2006 yang menyatakan satu desa harus memiliki satu penyuluh.
“Memang kita akui tenaga penyuluh di Bireuen belum lengkap seperti yang diinginkan, namun demikian kita berdayakan penyuluh yang sudah ada,” sebutnya kepada The Globe Journal, Kamis (13/9).
Kondisi tenaga penyuluh yang ada ini tambahnya lagi, harus mengetahui aspek-aspek dilapangan, minimal informasi harus disampaikan sebab penyuluh tidak sama dengan pegawai struktural.
Sumber : http://theglobejournal.com/cities/minim-tenaga-penyuluh-pertanian-di-bireuen/index.php 
[ Read More.. ]

Selasa, 11 September 2012

Penyuluh Kehutanan Kecamatan Juli Kembangkan Lebah Madu



Menurut Dalfial Fakruzi, STP, Penyuluh Kehutanan Kecamatan Juli, dikecamatan Juli sangat cocok di kembangkan budidaya Lebah madu karena potensi sari bunga yang ada tersedia cukup banyak. salah satu kegiatan percontohan yang sedangkan dikembangkan adalah di desa Paya Cut Kecamatan Juli, berikut ulasan dan tata cara budidaya ternak lebah madu.
Budidaya lebah madu sudah dikenal lama oleh masyarakat Indonesia. Secara tradisional kegiatan budidaya lebah madu ini banyak kita temui di pelosok pedesaan di pulau Jawa dan Bali sebagai kegiatan sampingan usaha tani mereka dengan menggunakan glodok dan periuk tanah. Pada masa kini kegiatan budidaya lebah madu semakin meningkat dan telah mendapat perhatian dari berbagai pihak baik dari pemerintah maupun swasta. Berdasarkan jenis lebahnya, budidaya lebah madu dapat dibedakan menjadi 2 yaitu lebah madu jenis lokal seperti Apis cerana dan lebah madu jenis unggul seperti Apis mellifera. Selain madu sebagai produk utama, hasil dari budidaya lebah madu juga menghasilkan berbagai produk sekunder semisal Bee swax, Bee venon, Bees (grood) dan Royal Jelly yang mempunyai potensi nilai ekonomi yang cukup menjanjikan.
Teknik Dalam Budidaya Lebah Madu
Pengembangan dan pengusahaan perlebahan dapat menggunakan pola sebagai berikut:
1. Pola usaha perlebahan rakyat
2. Pola perusahaan budidaya lebah


Budidaya lebah ada 2 cara yaitu:
1. Budidaya lebah secara menetap (stative bee keeping), lebah koloni diperoleh dari
    koloni yang belum dibudidayakan.
2. Budidaya lebah secara berpindah (migratory bee keeping), koloni diperoleh dari
    lebah paket
Tahapan-tahapan Dalam Usaha Budidaya lebah Madu
1. Persiapan tanaman pakan lebah, untuk kegiatan ini diperlukan evaluasi
    produktivitas bunga pakan lebah, pemanfaatan tanaman (memanfaatkan bunga-
    bunga yang ada di sekitarnya dan pembuatan tanaman dengan mengikuti pola
    agroforestry).
2. Pemilihan lokasi dengan syarat sebagai berikut:
    a. Tersedia cukup pakan lebah pada radius terbang Apis cerana : 0,5-0,7 km
        sedangkan pada Apis mellifera : 1,5-2 km
    b. Suhu udara antara 25-30 derajat celcius dengan kelembapan 70-80 %
    c. Tersedia cukup air bersih dan sirkulasi udara yang cukup baik
    d. Jauh dari ganggungan (bau, asap, kebisingan, hama dan penyakit serta angin
        kencang pada jam 11.00-14.00 WIB)
    e. Kotak menghadap ke timur agar cukup sinar matahari pagi dengan jarak
        antara kotak 1-2 m dengan ketinggian kotak minimum 30 cm dari tanah
        dengan type kotak type langstroth.
3. Cara memindahkan / memperbanyak koloni lebah adalah sebagai berikut:
    a. Alat : pisau, alat pengasap, sarung tangan dan tali
    b. Caranya:
        1). Apis cerana
             – Sarang diasapi
             – Irislah 4 sisiran sarang dengan hati-hati lalu diikat pada sarang yang telah
               disiapkan
             – Cari dan tangkap ratunya, potong sedikit sayapnya dan masukkan lebah
               ratu ke dalam sangkar yang telah diberi sangkar pengeram
             - Letakkan kotak lebah di tempat terbuka untuk menarik anggota koloni
               lainnya
             – Setelah jumlah cukup, kotak ditutup agar lebah tidak terbang lagi, dan
               hari berikutnya kotak dibuka
             – Setelah 3 hari lebah tidak akan pindah lagi
        2). Apis mellifera
             – Siapkan kotak dengan 6-7 bingkai sarang, pintu kotak ditutup dan berikan
               sirup kaleng di dalamnya
             – Tiriskan 4-5 sisiran sarang pengeraman dari kotak lama dan masukkan
               ke kotak baru
             – Pindahkan kotak tersebut sejauh 2 km
             – Kotak ditutup dan sesudah 24 jam dapat dibuka kembali
             – Sesudah 5 hari periksa sisiran sarang bila terdapat lebih dari 1 sel ratu,
               pilih salah satu yang terkuat dan lainnya dibuang
4. Menyiapkan masa panen
    a. Kotak madu diisi 10 sisiran madu kosong
    b. Antara kotak pengeraman dan kotak madu diberi sekat
    c. Sisiran madu yang telah tertutup lilin berarti siap panen
    d. Pemanenan dilakukan setelah 7 hari penutupan
5. Cara panen
    a. Pakailah sarung tangan dan masker/topeng dengan waktu panen pada pagi
        atau sore hari
    b. Pilih sisiran yang sudah penuh atau hampir penuh madu dan tertutup lilin,
        kemudian bersihkan sisiran tersebut dari lebah dengan menggunakan sikat
        lebah
     c. Kupaslah sisiran dengan mengunakan pisau dan ambillah madu dari sisiran
         menggunakan ekstraktor atau alat lain
     d. Kembalikan sisiran kosong ke dalam kotak madu lagi
     e. Panen pertama dilakukan setelah 3 bulan dari pemindahan koloni dan panen
         selanjutnya setiap 1 bulan
6. Memberi makan lebah
    a. Pada saat musim bunga, lebah dapat dibantu diberi makanan stimulasi berupa
        campuran antara lain tepung sari, bubuk kedelai dan vitamin B
    b. Pada musim paceklik diberi larutan sirup dengan perbandingan 1:1
7. Bila ada koloni ratu maka perlu:
    a. Digabungkan ke koloni lain yang ada ratunya, atau
    b. Mengambil satu sisir sarang yang ada sel ratu, lalu digabungkan
[ Read More.. ]

Sabtu, 11 Agustus 2012

PERAN PENYULUH KEHUTANAN DALAM PEMBERDAYAAN KELOMPOK USAHA PRODUKTIF (KUP)


Oleh : Ady Shihang Penyuluh Kehutanan Kabupaten Bireuen
I. PENDAHULUAN

Kebijakan pembangunan nasional khususnya pembangunan kehutanan sebagaimana tertuang dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara tahun 1999, Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dan dalam peraturan perundangan lainnya telah mengalami perubahan ke arah yang lebih menitik beratkan upaya pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah berusaha mengoptimalkan keterlibatan aktif masyarakat, terutama masyarakat desa hutan, yaitu masyarakat yang hidup dan kehidupannya bergantung pada sumberdaya hutan. Tujuannya antara lain membangun masyarakat desa hutan sejahtera, yang diukur tidak hanya dari kemajuan fisik dan ekonomi melainkan juga dari solidaritas sosial yang tinggi dan komitmennya terhadap pelestarian sumberdaya hutan dan lingkungan.

Penyuluh kehutanan memiliki peran yang strategis dalam upaya pemberdayaan masyarakat, karena penyuluh bukan saja berperan dalam prakondisi masyarakat agar tahu, mau dan mampu berperan serta dalam pembangunan kehutanan, akan tetapi penyuluh kehutanan harus terus menerus aktif dalam melakukan proses pendampingan masyarakat sehingga tumbuh kemandirian dalam usaha/kegiatan berbasis kehutanan.

Penyuluhan kehutanan pada hakekatnya adalah upaya pemberdayaan masyarakat, dunia usaha, aparat pemerintah pusat dan daerah, serta pihak-pihak lain yang terkait dengan pembangunan kehutanan. Kegiatan penyuluhan kehutanan menjadi investasi dalam mengamankan dan melestarikan sumberdaya hutan sebagai aset negara dan upaya mensejahterakan masyarakat.

II. PERAN PENYULUH KEHUTANAN

Peran penyuluh kehutanan dalam pemberdayaan masyarakat dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Pendamping Masyarakat

Kegiatan pendampingan terutama diarahkan dalam memfasilitasi penguatan kelembagaan masyarakat dan kegiatan usaha ke arah masyarakat

yang mandiri berbasis pembangunan kehutanan.

1.1. Fasilitas Penguatan Kelembagaan Masyarakat

Sebagai tahap awal dari proses pemberdayaan masyarakat dan menjadi kunci untuk melihat keberhasilan penyuluh dan kegiatan penyuluhan dalam pembentukan dan pengembangan kelembagaan masyarakat di wilayah kerjanya.

Penyuluh kehutanan harus berperan dalam memfasilitasi penguatan dan peningkatan kapasitas pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan pentingnya kelompok/kelembagaan yang kuat dan mandiri. Pada gilirannya akan tumbuh kesepakatan, kerjasama, dan jaringan kerja (net working) antar kelompok, antar desa dan antar kecamatan.

Strategi pendekatan fasilitasi yang dilakukan antara lain : pemantapan organisasi kelompok; peningkatan kwalitasi managerial sistem usaha; pemantapan kesepakatan/aturan; pencarian bantuan sumber daya permodalan; sarana dan prasarana.

Indikator yang mencirikan telah terbentuk dan berkembangnya kelembagaan masyarakat yang kuat dan mandiri yaitu dengan kriteria sebagai berikut :

a. Terbentuknya kelompok tani dengan SDM anggota masyarakat yang mantap.

b. Memiliki organisasi dan pengurus serta mempunyai tujuan yang jelas dan tertulis.

c. Memiliki kemampuan manajerial dan kesepakatan/aturan adat yang ditaati bersama.

1.2. Pendampingan Kegiatan Usaha Masyarakat

Peran penyuluh kehutanan dalam pendampingan kegiatan usaha masyarakat berbasis kehutanan harus dilaksanakan secara terus menerus sejalan dengan tingkat produktifitas, jenis aktifitas dan sistem kegiatan usaha. Berkembangnya kegiatan dan usaha Kelompok Masyarakat Produktif Mandiri (KMPM) berbasis pembangunan kehutanan, mencirikan telah terwujudnya kemandirian secara sosial dan ekonomi.

Beberapa kriteria telah berkembangnya KPMK berbasis pembangunan kehutanan antara lain adalah sebagai berikut :

a. Telah berkembang kelompok masyarakat dengan sistem usaha dan aktivitas kegiatan yang produktif berbasis pembangunan kehutanan.

b. Telah memiliki sumberdaya pendukung antara lain permodalan dan sarana/prasarana.

c. Telah berkembang kemitraan dengan multipihak sehingga terjadi sinergi dalam pemanfaatan fungsi sumberdaya hutan yang optimal dan lestari.

d. Kesejahteraan masyarakat secara sosial dan ekonomi meningkat.

Sistem usaha dan aktifitas kegiatan yang bersifat produktif dari KMPM

berbasis pembangunan kehutanan dapat berupa kegiatan dengan orientasi sebagai berikut :

a. Produksi hasil hutan : hutan produksi, hutan rakyat, hutan kemasyarakatan, agroforestry dan aneka usaha kehutanan.

b. Konservasi Lingkungan : Pengendalian kebakaran hutan, penangkaran satwa, budidaya flora/tanaman langka perlindungan sumber airdan lain-lain.

c. Usaha pemanfaatan jasa lingkungan : Hutan wisata.

Strategi pendekatan dalam pendampingan yang dapat dilakukan adalah melalui: asistensi teknis pelatihan/ alih teknologi mulai dari perencanaan, tehnik budidaya dan pengolahan hasil, keterampilan, sistem agrosilvobisnis dan lain-lain.

Fasilitas kemitraan dengan dunia usaha dan para pihak lainnya, antara lain dengan memperhatikan akses informasi teknologi dan pasar, insentif sumberdaya guna peningkatan usaha dan lain-lain.

2. Mengorganisir Masyarakat

Penyuluh kehutanan diharapkan mampu mengorganisir masyarakat (community organizer) yaitu dengan memfasilitasi masyarakat dalam membentuk kelompok-kelompok organisasi yang peduli akan kelestarian hutan dan lingkungan. Untuk dapat menggerakkan dan memotivasi masyarakat, penyuluh kehutanan harus aktif, terpercaya dan diakui integrasinya serta mampu meyakinkan dan kompeten dalam bidang tugasnya.

Beberapa indikator yang menunjukkan keberhasilan penyuluh dalam mengorganisir masyarakat antara lain :

a. Terbentuknya pusat/sentra penyuluhan di pedesaan.

b. Berkembangnya forum-forum di desa atau kecamatan yang peduli akan hutan dan pembangunan kehutanan.

c. Meningkatnya partisipasi masyarakat secara swadaya dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.

3. Pengawal Pembangunan Kehutanan

Penyuluh kehutanan diharapkan mampu berperan dalam mengawal keberhasilan dari setiap program pembangunan kehutanan yang diprakarsai pemerintah. Keterlibatan dan partisipasi masyarakat akan sangat menentukan suksesnya suatu program.

Sosialisasi akan maksud dan tujuan serta manfaat dari suatu program perlu dilakukan agar timbul pemahaman yang baik dan menyeluruh. Dari hasil pengamatan lapangan, suatu program yang disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat menunjukkan tingkat keberhasilan yang lebih signifikan. Sebaliknya kegiatan yang dilakukan tanpa melalui upaya penyuluhan, tingkat keberhasilannya umumnya kurang menggembirakan.

Beberapa indikator yang dapat menimbulkan keberhasilan penyuluh kehutanan dalam mengawal pembangunan kehutanan antara lain :

a. Tercapainya volume fisik yang ditargetkan dan memenuhi kualitas yang dikehendaki.

b. Peningkatan pemahaman masyarakat akan maksud dan tujuan kegiatan dan menjadi kebutuhan baginya.

c. Kesediaan masyarakat untuk mengikutsertakan dana, asset, sarana/ prasarana, tenaga, dalam upaya mensukseskan program.

Sehingga mampu mempertahankan aneka usaha masyarakatyang berbasis kehutanan dan peduli kepada sumberdaya alam berupa hutan.

4. Mengamankan Aset Negara berupa Hutan.

Penyuluh kehutanan memiliki peran ganda yaitu selain sebagai fasilitator pemberdayaan masyarakat di bidang kehutanan, mereka juga mempunyai kewajiban untuk melakukan tugas perlindungan dan pelestarian hutan yang merupakan aset negara.

Penyuluh kehutanan dituntut untuk mampu mengajak masyarakat merasa ikut memiliki dan wajib memelihara, mempertahankan melindungi sumber daya hutan dari berbagai gangguan keamanan hutan (kebakaran hutan, penebangan liar, perambahan, dan sebagainya).

Beberapa indikator yang menunjukan keberhasilan penyuluh kehutanan dalam membawakan perannya sebagai pengaman aset negara berupa hutan antara lain:

a. Telah terdapat kesepakatan desa dalam melarang penduduk desa menebang kayu di kawasan hutan.

b. Telah ada upaya-upaya masyarakat sekitar hutan untuk mencegah terjadinya penebangan liar yang dilakukan pihak luar.

c. Telah ada ketentuan-ketentuan desa untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan.

Keberhasilan seorang penyuluh kehutanan untuk melaksanakan perannya dengan baik, tentunya tidak dapat ditentukan oleh faktor internal dari si penyuluhnya sendiri saja, tetapi juga sangat tergantung pada faktor-faktor eksternal. Faktor internal menyangkut kemampuan dan kwalitas dari SDM penyuluhnya yang ditentukan oleh tingkat kompetensinya dalam menjalankan tugas. Faktor eksternal yang menentukan adalah prerhatian serta dukunga dari pikah pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Dukungan pemerintah (pusat, propinsi, dan kabupaten/kota) meliputi unsur: kelembagaan, sarana, prasarana, SDM, pendanaan, aksesibilitas, regulasi, penghargaan, dan lain-lain.

Dukungan dari dunia usaha terutama dalam hal membuka peluang pasar, modal kerja, bimbingan kwalitas, dan dukungan kegiatan penyuluhan. Sedangkan dukungan dari masyarakat sendiri terutama dalam pemahaman dan kepedulian akan peningkatan mutu kehidupannya dan mutu lingkungan hidup sekitarnya.

III. PENUTUP

Guna mengantisipasi berbagai tantangan pembangunan kehutanan, maka sumber daya manusia (SDM) penyuluh kehutanan pada era otonomi daerah ke depan diharapkan dapat didukung oleh tenaga-tenaga fungsional yang handal dan profesional. Oleh karena itu, para tenaga penyuluh kehutanan haruslah memiliki kompetensi dalam menjalankan tugas dan fungsinya antara lain sebagai berikut:

1. Menguasai teknologi penyuluhan yang meliputi antara lain: metode, materi, komunikasi, teknik fasilitasi, dan teknik penyuluhan.

2. Menguasai teknologi pemberdayaan masyarakat yang meliputi pendampingan dan penguatan kelembagaan.

3. Memiliki pengetahuan substansi kehutanan yang meliputi: issu kehutanan, kebijakan kehutanan, lembaga kehutanan dan teknologi kehutanan.

4. Memahami sistem agrisilvobisnis yang meliputi: pengetahuan sosial ekonomi dan pemasaran di bidang agrisilvobisnis.
[ Read More.. ]

Kamis, 09 Agustus 2012

Sejarah Pertanian Indonesia Pasca Kemerdekaan


Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan memiliki banyak pulau, salah satu pulau tersebut ialah Pulau Jawa. Pulau Jawa memilki luas 132.000 Km², kira-kira 9% dari luas Indonesia yakni 1,5 juta km². Akan tetapi dari seluruh jumlah penduduk Indonesia hampir 2/3 penduduknya bertempat di Jawa. Ini berarti 9% luas tanah Indonesia menampung 2/3 jumlah penduduk sedangkan lebih dari 90% luas tanah hanya menampung1/3 jumlah penduduk.

Pola kontras antara jawa dengan luar jawa ini juga dapat dilihat dari penggunaan tanah. Hampir 70% Pulau Jawa ditanami setiap tahun, sedangkan diluar jawa hanya sekitar 4%. Bagian luar jawa hampir 90% ditanami dengan cara perladangan, bercocok tanam berpindah-pindah dan tebang bakar. Sementara di Jawa hampir seluruhnya ditanami 2 kali setahun dengan cara sawah beririgasi.

Sejarah menjadi penting bukan karena romantisme nostalgia atau mengagungkan kebanggaan prestasi, tetapi justru karena dapat menjadi cermin untuk mengenal jati diri dan memperbaiki hari esok dalam lintasan sejarah itu sendiri. Perjalanan sejarah pertanian Indonesia dihiasi dengan serangkaian keberhasilan yang patut disyukuri. Setelah kemerdekaan Indonesia mencapai surplus produksi beras dan mengirimkan sebagian berasnya pada India yang ketika itu tengah mengalami bencana. Indonesia juga dikenal sebagai eksportir gula yang utama. Setelah melewati krisis politik pada pertengahan Tahun 1960, Indonesia berhasil menerapkan paket teknologi kelembagaan hingga mampu menjadi negara yang dikenal mampu menjadi negara berswasembada. Keberhasilan swasembada beras pada pertengahan Tahun 1980 dapat ditunjukkan oleh angka-angka statistik yang cukup meyakinkan, namun disisi lain, kondisi swasembada yang terjadi hanya dalam waktu singkat dan biaya sangat besar mendapatkan beberapa permasalahan di kemudian hari.


Menanggapi sukses ekonomi Indonesia yang sangat luar biasa, seorang analis ekonomi Hal Hill menulis :


Seperempat abad terakhir merupakan periode perubahan yang luar biasa pesatnya bagi Indonesia. Diawal-awal Tahun 1960-an, Indonesia sebenarnya tidak banyak dikenal orang. Semenjak Tahun 1966 ekonominya berkembang mencapai 500% dan penduduknya sekitar 75%. Masyarakatnya lebih terdidik dan tercukupi dalam sandang dan pangan daripada sebelumnya. Kemiskinan pun semakin berkurang secara signifikan… Saat ini bangsa Indonesia mampu mencukupi dirinya sendiri. Ia siap bergabung dalam barisan “naga ekonomi” Asia lantaran berbagai hasil industrinya melampaui hasil-hasil di bidang pertanian (Hill, 1994).


Revolusi hijau memang mampu meningkatkan produksi beras nasional dan mengubah status Indonesia dari pengimpor beras terbesar menjadi negara swasembada beras pada Tahun 1984. Namun setelah itu, Indonesia kembali menjadi pengimpor beras. Pada Tahun 1985, Indonesia mengimpor 9.429 ton beras. Sedangkan pada Tahun 1987 impor beras Indonesia meningkat menjadi 54.830 ton dan pada Tahun 1992 mencapai 566.441 ton. Hardiyoko dan Panggih Saryoto menuliskan :

Dari data yang ada, produksi beras nasional Indonesia tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan beras penduduk mulai Tahun 1985. Meski revolusi hijau mampu mengangkat swasembada beras, namun penerapannya telah berdampak negatif terhadap lingkungan dan manusia.


Pada orde baru, “politik swasembada” menjadi bendera utama pengelolaan pembangunan pertanian, dengan mengembangkan dan menerapkan program yang sebenarnya sudah dicanangkan sebelumnya, yaitu intensifikasi dengan penerapan teknologi, ekstensifikasi, rehabilitasi dan berbagai program lain. Keberhasilan program swasembada beras sebagai monumen keberhasilan pembangunan pertanian orde baru, dicapai setelah lebih dari 15 tahun program Pelita dijalankan dan penetapan pertanian sebagai prioritas (sementara sektor lain menjadi penunjang), menjadikan pembangunan pertanian sebagai program di semua lini pemerintahan. Berbagai studi telah menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian pada masa itu lebih dari 60 % ditentukan oleh faktor infrastruktur dan kelembagaan penunjang, sedangkan sekitar 40 % sendiri ditentukan oleh berbagai usaha yang dilakukan internal sektor pertanian sendiri. Namun setelah pertengahan Tahun 1980-an –setelah industri ditempatkan sebagai prioritas pertama- ekonomi Indonesia kemudian memang berkembang lebih cepat, tetapi juga menjadi lebih rapuh yang berakhir dengan krisis finansial Tahun 1997/1998.

Pada masa transisi reformasi, politik pertanian Indonesia terbawa oleh arus perkembangan politik nasional yang lebih besar. Departemen Pertanian melakukan pembangunan pertanian yang terdesentralisasi sesuai dengan era politik yang dianut pada masa tersebut. Selain itu arah pertanian menjadi lebih berdaya saing yang mencerminkan perlunya usaha menghadapi tekanan persaingan yang semakin besar, berkerakyatan yang mencerminkan semangat partisipasi dan berkelanjutan sejalan dengan peningkatan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan.


Sumber :
Valensi Kautsar. 2010. Pola Transformasi Spasial Pertanian di Kabupaten Sleman. Makalah Seminar Kelas. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.


CC:  
http://blog.ub.ac.id/emiradyh/2012/06/16/sejarah-perkembangan-pertanian-indonesia/

[ Read More.. ]

Senin, 06 Agustus 2012

Makalah Pengantar Ilmu Peternakan

Pembangunan industri peternakan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan swasta. Ketiga komponen manajerial tersebut perlu bersinergi satu dengan lainnya untuk membangun kelembagaan yang terstruktur baik guna mengoptimalkan pemanfaatan berbagai sumber daya yang dimiliki dalam pengembangan sistem peternakan harapan. Kebutuhan daging sapi dan susu sapi baru dapat dipenuhi melalui impor dalam jumlah besar. Daging kambing, daging ayam dan telur dapat dikatakan telah berswasembada, hanya sayang pakan ayam ras masih harus diimpor sekitar 3 juta ton per tahun. Trend konsumsi kedepan akan terfokus pada daging sapi, daging ayam dan telur karena produk akhir dari ketiga komponen tersebut bersifat harga murah, mudah diperoleh, tersebar sampai pedesaan dan bergizi tinggi dan disukai masyarakat umum. Oleh karena itu restrukturisasi peternakan harus fokus pada kelembagaan yang mampu untuk penyediaan benih/bibit yang cukup dan kontinu, kecukupan dan kemudahan perolehan pakan dan obat-obatan serta pemasaran yang menguntungkan para pelaku. Pengembangan kawasan industri peternakan dari hulu sampai hilir akan merupakan pilihan utama untuk menggapai harapan.Donwload Makalah lengkap
[ Read More.. ]

Minggu, 05 Agustus 2012

Bireuen Bertabur Bunga


Menjelang Pelantikan Bupati Bireuen terpilih H Ruslan HM Daud dan Wakil Bupati Terpilih Ir Mukhtar Abda MSi kota Bireuen di penuhi dengan rangkaian bunga ucapan selamat, baik itu yang datang dari Instansi Pemerintah, Instansi Swasta, Pengusaha, Lemaga Swadaya Masyarakat dan Personal masyarakat Bireuen, hal ini memberikan berkah tersendiri kepada pengusaha papan bunga dan usaha percetakan di kabupaten Bireuen, menjelang Pelantikan Bupati usaha – usaha papan bunga kebanjiran order. susunan papan bunga dapat dipantau mulai dari depan pendopo sampai di SP.Empat Jalan Gayo. secara antusias masyarakat akan menyaksikan proesesi pelantikan pada hari senin tanggal 6 Agustus 2012, masyarakat berharap kedepan Bireuen akan lebih maju khusus di sector pertanian, perikanan dan kehutanan.  (Arsyadi THL-TBPP Kab.Bireuen)
[ Read More.. ]

Sabtu, 04 Agustus 2012

Ganti Cangkul Petani dengan Laptop Atau Komputer


Pada saat petani mulai melek TI mungkin petani tidak lagi memegang cangkul, parang dan alat – alat pertanian lainnya, bagaiman hal tersebut akan terwujud? disaat petani mulai mahir IT dan Internet maka petani tidak perlu lagi subuh – subuh sekali bangun dan membawa hasil panennya kepasar pagi yang ada dikota kecamatan atau kabupaten. Akan tetapi petani langsung bisa memasarkan hasil panennya setiap sore melalaui pasar lelang online atau forum khusus.

Akankah ini terwujud? Jawabannya pasti,,,bisa, besok, lusa atau beberapa tahun kedepan, perkembangan IT bakal mempermudah petani dalam melakukan kegiatan pertaniaannya baik itu kegiatan on farm maupun kegiatan of farm. mulai sekarang peran Penyuluh Pertanian Lapangan diharapkan bisa mengubah semua ini, PPL disamping mahir memberi penyuluhan berkaitan dengan Teknis Budidaya, Hama Penyakit, Panen dan Pasca Panen PPL juga harus mampu menguasi mengajarkan petani tetang IT.
[ Read More.. ]

Jumat, 03 Agustus 2012

Potensi Perikanan Tangkap di Kabupaten Bireuen

Produksi Perikanan Tangkap tahun 2007 :
JENIS IKAN
Pantai Selat Malaka
- ikan selar : 613,9 ton, ikan kwee : 352,7 ton, ikan layang : 606,8 ton, ikan Sunglir : 82,6 ton, - ikan tetengkek : 259,4 ton, ikan bawal hitam : 136,4 ton, ikan bawal putih : 159,6 ton, ikan talang-talang : 499,2 ton,
- ikan kakap putih : 237,6 ton, ikan golok golok : 257,8 ton, ikan selanget : 95,8 ton, ikan japuh : 125 ton
- ikan tembang : 93,6 ton, ikan lemuru : 96 ton, ikan Peperek : 270 ton, ikan lencam : 30,1 ton,
- ikan kakap merah : 336,4 ton, ikan belanak : 259,2 ton, ikan biji nangka : 238,7 ton, ikan swangi : 156,9 
   ton
- ikan tongkol krai : 689,1 ton, ikan tongkol komo : 532,1 ton, ikan cakalang : 1.945,7 ton, ikan kembung :
  391,1 ton,
 - ikan alu alu : 87,5 ton, ikan tenggiri : 310,8 ton, ikan tuna mata besar : 820,1 ton, ikan tongkol abu abu :
   1.289,4 ton -ikan layur : 132,3 ton, ikan cucut : 292,3 ton, ikan pari : 165 ton, ikan lainnya : 772,6 ton

JENIS UDANG
- Udang Putih : 147,2 ton, udang lainnya : 77,2 ton,
BINATANG LUNAK
 - cumi cumi : 84,7 ton, sotong: 31,9 ton Produksi 2007 (Ton) 12.677 Produksi 2006 (Ton) 17.061

 Sumber Data: Statistik Perikanan Tangkap 2007
 Pemerintah Kabupaten Aceh Utara
[ Read More.. ]

Makalah Agroekologi

 
 Salah satu upaya penanganan kerusakan lahan akibat ekplorasi adalah dengan menerapkan sistem budidaya lorong dalam pengembangan sistem usahatani lahan kering, karena sistem ini memberikan banyak keuntungan diantaranya dapat menekan terjadinya erosi, meningkatkan produktivitas tanah karena adanya penambahan bahan organik melalui hasil pangkasan tanaman pagar, dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman serta dapat menciptakan kondisi iklim mikro (suhu) diantara lorong tanaman (Sudharto et al., 1996).  Donwload Makalah lengkap
[ Read More.. ]

Jumat, 27 Juli 2012

Ketika Petani Mulai Meninggalkan Cangkul


Kita mengerti bahwa perkembangan peradaban manusia bisa ditilik dari kehidupan manusia purba. Manusia purba hidup dari food gathering yakni berburu dan meramu, masa berladang pindah-pindah (dalam bahasa sunda yakni huma atau ngahuma), dan selanjutnya bertani menetap. Perkiraan Kuntjaraningrat (1967: 31-32), bahwa peralihan dari food gathering ke perladangan bisa diimajinasikan dengan spekulasi-spekulasi bahwa usaha bercocok tanam yang pertama dimulai dengan aktivitas mempertahankan tumbuh-tumbuhan dari serangan binatang buas. Dalam proses aktivitas itu, sangat mungkin terjadi pengamatan bagaimana misalnya biji jatuh ke tanah kemudian tumbuh, ataupun batang singkong yang tertancap di tanah lalu tumbuh. Demikianlah, kemudian dapat dibuat berbagai teori yang mencoba menjawab soal bagaimanakah manusia pertama kali bercocok tanam.
Melewati masa purba, menuju awal masehi, perkembangan perekonomian Indonesia didominasi oleh tradisi maritim ketimbang agraris. Sentra-sentra kerajaan berawal dari kota-kota pesisir yang ramai. Kondisi ini setidaknya sampai pada era Mataram atau mundur lagi—dengan toleransi tertentu—pada era Majapahit. Majapahit telah mengekspor beras ke Tiongkok, meski hal itu tidak menjadi hal signifikan dalam perekonomian ketimbang transaksi politik di perairan (perang) dan upeti-upeti yang dijemput langsung ke daerah taklukan ataupun yang diantarkan oleh delegasi daerah kekuasaannya. Yang agak jelas, Indonesia menjadi agraris ketika Mataram menjadi kerajaan Jawa pedalam yang muncul pada pertengahan abad ke-16.  (http://agusbudipurwanto.wordpress.com/2010/08/30/sejarah-petani-indonesia/)
sejarah perkembangan pertanian di Indonesia mulai dari bertani berpindah – pindah sampai pada bertani menetap secara berkelompok dan bertani menetap secara individu,peran petani sangat besar, petanilah yang telah menjaga stabilitas nasional dengan pencapaian swasembada beras. beras merupakan makanan pokok di Indonesia tanpa stok beras yang cukup maka stabilitas politik akan sedikit terganggu. Hal ini telah dibuktikan oleh beberapa perkembangan Sejarah Politik di Indonesia.
Kekhawatiran besar sedang terjadi sekarang adalah satu persatu petani mulai meninggalkan cangkul dan lahan garapannya, petani lebih suka beralih kepekerjaan lain yang lebih menguntungkan ketimbang bertani. Sarjana – Sarjana Pertanian lulusan berbagai Perguruan tinggi banyak yang terjun ke pekerjaan lain si luar kegiatan bertani, mereka lebih memilih pekerjaan yang lebih menjanjikan dibandingkan bertani, semisal menjadi PNS, Dosen, ataupun Karyawan Swasta. hanya sebagian kecil dari mereka yang betul betul menggeluti usaha bertani.
kekhawatiran ini harus cepat ditanggapi oleh pemerintah, setidaknya pemerintah bisa menciptakan berbagai program yang dapat dirasakan oleh yang betul – betul petani, sehingga petani kita tidak semakin susut. dan usaha pemerintah mencapai dan mempertahankan swasembada pangan dapat di tingkatkan dan di pertahankan . (Arsyadi. THL TBPP Bireuen)
[ Read More.. ]
x

join to my fans at facebook