Harga Kebutuhan Pokok Pekan ini di Seputaran Pasar Bireuen : Beras Rp.........Minyak Goreng Rp.......Gula Pasir Rp.........Cabe Merah Rp.........Bawang Merah Rp........Bawang Putih Rp...........

Minggu, 08 April 2012

Petani Kopi Gayo Galau


Menjelang panen raya petani kopi negeri di atas awan (Dataran Tinggi Gayo) mengalami frustasi pasalnya harga kopi di tingkat pengumpul di Takeungon , Pondok Baru, Sp.Teuriti, Lampahan dan beberapa daerah sentral kopi lainya mengalami penurunan yang cukup drastis, apakah dalam hal ini Pemerintah Aceh Tengah dan Bener Meriah sudah mengambil inisiatif untuk mengatasi masalah tersebut. Berikut cuplikan berita yang berhasil kontributor FK THL TBPP Kupulkan.

Harga kopi Gayo di sentra kopi terbesar Sumatera, Takengon dan Redelong mengalami penurunan drastis. Padahal, sebelumnya harga kopi berada pada angka yang sangat menggembirakan petani.
Anjloknya harga kopi arabika Gayo sejak sepekan terakhir membuat sejumlah petani mengeluh karena kopi berada di pertengahan panen atau menjelang panen raya. "Kualitas kopi saat ini sangat baik, namun sayang harganya turun," kata Zulkarnain, petani di kopi di Bener Meriah, Selasa (20/3).
Dikatakan, saat ini kopi gelondong merah (cherry) dibeli pedagang Rp80 ribu/kaleng. "Itu pun tergantung kualitas kopi. Kualitas baik dibeli pedagang di atas Rp80 ribu. Padahal sebelumnya harga kopi Rp100 ribu lebih," keluh Zulkarnain.

Kahar, seorang pedagang kopi di Takengon membenarkan turunnya harga kopi. Saat ini harga kopi paling mahal Rp80 ribu/kaleng buah merah atau gelondongan. Diterangkan Kahar, kopi asalan, dengan ketentuan kadar air 18 persen serta terase (sampah) 12 persen di pasar kopi Medan  Rp47 ribu.
Sementara kopi Arabika Gayo siap ekspor dibeli Rp54 ribu dengan ketentuan kadar air 14 persen dan terase 8 persen.  Sebelumnya, tambah Kahar, harga kopi biji hijau atau green bean di atas Rp60 ribu.

Kopi Olahan

Pantauan Analisa, saat ini sejumlah pelaku usaha kopi pada level industri kecil menengah (IKM) sudah mulai memasuki pasaran khusus kopi olahan dan tidak lagi menjual kopi mentah (biji). Sejumlah warung kopi (cafe) tumbuh subur di seputaran Takengon dan Bener Meriah.
Di Takengon, sejumlah perusahaan asing dan lokal yang menggandeng petani dan koperasi mengirim langsung kopi Gayo ke mancanegara. Kopi arabika Gayo diminati pasar dunia karena rasa dan aroma serta jaminan berbagai sertifikat untuk kopi.

Sertifikat tersebut seperti fair trade, organic  coffee, rain forest dan dua sertifikat lainnya. "Sertifikat-sertifikat ini menambah nilai harga kopi arabika di pasar dunia," kata Djumhur dari koperasi Permata Gayo. (www.analisadaily.com)

Harga kopi gayo di Takengon dan Bener Meriah yang merupakan sentra penghasil kopi arabika terbesar di Asia , anjlok sejak sepekan terakhir. Harga kopi beras (green bean) saat ini di tingkat local Aceh Tengah dan Bener Meriah hanya dibeli Rp. 47 ribu.
“Padahal sebelumnya sudah diatas Rp.60 ribu”, kata Kahar, seorang pedagang kopi di Takengon. Kahar saat ini membeli kopi dari petani kopi Rp.80 ribu/kaleng (setara dengan 10 kilogram lebih). Menurut beberapa petani, salah seorangnya Zulkarnain, petani di Bener Meriah menyebutkan bahwa saat ini kopi gayo sedang berada pada kondisi stabil menjelang panen raya.
“Jika sebelumnya pedagang kopi beralasan kualitas kopi tidak bagus, sekarang kondisi kopi sangat baik, tapi kok harga turun”, kata Zulkarnain kecewa. Zulkarnain menduga turunnnya harga kopi gayo akibat permainan pedagang dan mafia kopi.
Menurut Zulkarnain, saat ini kopi gelondong merah (cherry) dibeli pedagang dengan harga Rp.80 ribu/kaleng. “Tergantung kualitas kopi. Kopi yang baik dibeli pedagang diatas Rp.80 ribu. Tapi tak sampai Rp.90 ribu. Padahal sebelumnya sudah diatas Rp.100 ribu”, keluh Zulkarnain.Bahkan menembus angka Rp.110 ribu/kaleng.
Sementara itu, kopi arabika gayo ready atau siap eksport dibeli Rp. 54 ribu dengan ketentuan, kadar air 14 persen dan terase 8 persen. Data Pemkab Aceh Tengah seperti disampaikan bupati Aceh Tengah, Nasaruddin pada konferensi Kakao dan Kopi di hotel Hermes Palace (14-15/3) mengungkapkan,
Di tiga kabupaten penghasil kopi arabika rakyat, Takengon, Redlong dan Gayo Lues mencapai 92.520 hektar. Lahan seluas ini diusahakan oleh 66.101 kepala keluarga.
Di Aceh Tengah, lahan kopi menempati areal seluas 48.000 hektar . Dengan produktivitas 0.725 ton/ha/tahun. Kopi gayo sudah dilindungi secara geografis (IG) dengan nomor ID G 000000005, Tanggal 28 April 2010.
Sebelumnya, di tingkat petani, kopi biji hijau (KBH), arabika gayo dijual Rp.66.500 atau sekitar 7.4 dolar Amerika/kilogramnya. “Harga kopi gayo lebih tinggi dua dolar dibandingkan harga terminal kopi di New York”, ulas Djumhur, dari koperasi Permata Gayo, eksportir.
Dari data Surat Persetujuan Eksport Kopi (SPEK) yang dikeluarkan Dinas Perdagangan Aceh Tengah, bulan Januari 2012 meperlihatkan eksport kopi arabika gayo sebanyak 456 ton dengan pasar terbesar ke Amerika, Kanada dan Mexico.
Dua varietas kopi arabika gayo, yakni Gayo 1 dan Gayo 2 sudah dilepas Menteri Pertanian sebagai varietas unggul berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor 3998/Kpts/SR.120/12/2010, Tanggal 29 Desember 2010.
Gayo 1 merupakan varietas Arabusta Timtim, sementara gayo 2 adalah verietas Borbor. Kelebihan kedua varietas ini adalah tahan terhadap karat daun, nematode dan penggerek buah kopi. Selain itu kedua varietas ini memiliki citarasa dan aroma excellent, dengan potensi hasil diatas 1 ton/ha/tahun.
Saat ini sejumlah pelaku usaha kopi pada level Industri Kecil Menengah (IKM) sudah mulai memasuki pasaran khusus kopi olahan dan tidak lagi menjual kopi mentah (biji). Sejumlah warung kopi (Café) tumbuh di seputaran Takengon dan Bener Meriah.
Café modern ini menyajikan kopi olahan dengan mesin espresso manual dan otomatis. Selain itu, kopi bubuk , gonseng (roasted bean) serta kopi uwak gayo sudah mulai dipasarkan dari industry rumah tangga.
“Meski masih berskala kecil, namun permintaan kopi gayo dengan berbagai olahan ini sudah mulai pangsa pasar disejumlah kota besar Indonesia. Seperti Bali, Yogja, Jakarta, Medan , Batam, Bandung serta kota lainnya”, ujar Sarhan, pelaku usaha kopi olahan.
Di Takengon, sejumlah perusahaan asing dan local yang menggandeng petani dan koperasi mengirim langsung kopi gayo ke antero dunia. Kopi arabika gayo diminati pasar dunia karena rasa dan aroma serta jaminan berbagai sertifikat untuk kopi.
Sertifikat tersebut seperti Fair Trade, organic coffee, rain forest dan dua sertifikat lainnya. “Sertifikat –sertifikat ini menambah nilai harga kopi arabika di pasar dunia”, ungkap Djumhur dari koperasi Permata Gayo.
“Turunnya harga kopi gayo saat ini karena turunnya permintaan buyer”, imbuh Djumhur. Turunnya harga kopi arabika gayo diamini Mustawalad, Ketua Produser Fair Trade Indonesia (APFI). Menurut Mustawalad , turunnya kopi gayo akibat permintaan pembeli dari luar negeri menurun.
“Di beberapa Negara penghasil kopi dunia telah memulai masa panen sehingga berpengaruh terhadap permintaan kopi arabika gayo”, kata Mustawalad.( http://ekonomi.kompasiana.com)

| Free Bussines? |

x

join to my fans at facebook